Uncategorized

Din Syamsuddin Soroti Gerakan Berkebaya Diikuti Penanggalan Jilbab, Astagfirullah…

ASSAJIDIN.COM  — Mantan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin menyinggung kampanye gerakan berkebaya yang mengajak anak-anak muda mendukung kelestarian kebaya dan menanggalkan jilbab. Justru, menurutnya hal itu sebaliknya merupakan upaya konkret memanipulasi Pancasila.

“Nggak mungkin dong Berketuhanan Yang Maha Esa, lalu disuruh lepas hijab. Bagi muslimah, bagaimana mungkin itu dipaksakan, ”ujar Din usai rapat pleno Dewan Pertimbangan MUI di kantor MUI, Jakarta Pusat, Rabu (28/8/2019).

 

“Sementara itu, Pasal 29 UUD 45 menegaskan bahwa setiap warga negara bebas menjalankan ibadah sesuai agamanya. Justru pancasila ini yang kita kembangkan,” pungkasnya.

Lihat Juga :  8 Tren Hijab Populer Tahun 2021, Nomor 1 tak Disangka Namanya Lucu Sekali

Ia meyakini, dinamika fenomena ini sebagai fenomena penyimpangan Pancasila. Ada klaim sepihak, seolah-olah hanya grup tertentu yang paling Pancasilais.

“Itu sebagai contoh saja. Kalau mau pakaian asli wanita indonesia dulu, saya kira malah belum terpilih ya, ”terangnya.

Pada kesempatan yang sama, ahli sejarah, Ahmad Mansur Suryanegara menjelaskan, tradisi yang sopan dan tradisi baju baru telah ada sejak tahun 1950-an dalam buku Sejarah Nasional Indonesia karya Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto loh.

Ia menceritakan itu tradisi di awal mulanya ada di daerah kesultanan Banten. “Gerakan menasionalkan budaya tentang pakaian itu pada tanggal 1 Syawal semua orang membeli baju karena budaya dari ajaran Islam,” jelas Mansur.

Lihat Juga :  Mantap Berhijab, Deswita Maharani Kaget Masih Ada Orang Minta Lepas Hijab untuk Lakukan Job

Kerajaan Banten sangat erat dengan napas Islam. Bahkan pada waktu itu, untuk menyemarakkan datangnya hari raya Id, warga berbondong-bondong mencari baju baru. Sehingga, kata dia waktu itu banyak petani yang tiba-tiba alih profesi menjadi penjahit waktu lebaran datang.

“Nah, setelah itu para ulama menyerukan untuk memakai batik seperti yang kita pakai sekarang ini,” tuturnya. [*/REPORTER: RHIO)

Back to top button