OPINI

Dzulhijah, Hari Kemerdekaan dan Quran Surat An – Nashr Ayat 1-3

ASSAJIDIN.COM — Pada bulan Dzulhijjah tahun 10 H, Allah menurunkan surat terakhir yang diturunkan secara utuh yaitu Surat An-Nashr, Surat ke-110 dalam Mushaf Utsmani. Surat ini turun pada hari Tasyriq, ketika Haji wada’, di Mina. Ini adalah haji terakhir Rasulullah s.a.w atau dikenal dengan haji perpisahan.

Allah berfirman :

”Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.” (QS. 110:1-3)

Surat An-Nashr hanya tiga ayat, tapi mengandung nilai perjuangan dan kemerdekaan yang luar biasa. Surat ini jika kita baca dengan penuh penghayatan akan mengingatkan kembali bahwa segala bentuk keberhasilan baru bisa dicapai dengan perjuangan yang istiqomah.

Ayat pertama bercerita tentang pertolongan Allah dan keberhasilan kaum Muslimin:
“Ketika telah datang pertolongan Allah dan kemenangan (futuh Makkah)”
Penegasan ”telah datang” mengisyaratkan adanya waktu ketika pertolongan itu “belum datang”.

Saat “belum datang”, itulah masa-masa amat sulit, masa perjuangan yang tidak cuma sebentar. Masa-masa percobaan yang penuh fitnah dan kegetiran, jalan yang terjal dan mendaki.
Sebagaimana diterangkan Allah dalam ayat lain, QS 2:214.
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu [cobaan] sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan [dengan bermacam-macam cobaan] sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.”
Yang gratis sudah banyak. Udara, angin, air, sinar matahari, terang rembulan dan bintang-bintang, hujan, daya indera, kemampuan pikiran, segenap karunia hidup ini adalah “gratis”.
Tapi dalam soal “bagaimana kita harus menjalani hidup”, membangun prinsip dan menegakkannya, merumuskan kebenaran dan mempraktikkannya dengan konsisten, pertolongan Allah dan kemenangan harus dicapai dengan perjuangan yang tidak mudah. Tidak ada hal yang bisa disebut keberhasilan jika ia tidak diperoleh dengan kerja keras. Tidak ada sukses yang jatuh dari langit. Semakin sulit suatu keberhasilan diraih, semakin mendalam pula makna keberhasilan itu bagi peraihnya.

Lihat Juga :  Indonesia, Islam dan Gerakan Antipelit

Dan kerja keras ini adalah sunnatullah yang harus dijalani tanpa pengecualian, karena Allah sudah menetapkan bahwa Dia tidak akan mengubah situasi kita kecuali kita mau bergerak untuk mengubahnya.
“Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri …” (QS 13:11).
Di atas segalanya, contoh keberhasilan itu indah dan kuat sekali terlukis sepanjang sejarah hidup Rasulullah. Mari baca kembali kisah persekusi kaum kafir Quraish, penganiayaan di Ta’if, Hijrah ke Abesinia, Hijrah ke Madinah, pengkhianatan kaum Yahudi Madinah dan lain-lain adalah bagian dari perjalanan panjang yang berat, sebelum futuh Makkah (penaklukan Makkah) sebagai “puncak” turunnya pertolongan Allah.

Sekarang kita tengok juga sejarah perjuangan para pahlawan kita, dari sabang sampai merauke, pejuang-pejuang negeri ini juga melalui masa-masa yang tidak mudah. Bukan hanya harta, bahkan jiwa menjadi taruhannya. Semuanya hanya ingin mewujudkan kemerdekaan, memperjuangan hak-hak manusia, mengusir kedzaliman penjajahan.

Dibanding apa yang dialami Para Pahlawan Negeri ini, seberapa derajatkah kesulitan, penderitaan dan perjuangan kita sekarang ini dalam menaklukkan kenyataan? Kapan kita mengeluh, kapan kita bersyukur? Silakan tengok “prestasi” yang pernah kita raih dalam hidup ini? Juga kegagalan-kegagalan yang kerap membuat kita berkecil hati. Seberapa kuat kemauan kita untuk melanjutkan perjuangan para pendahulu kita.
Para Pahlawan telah mewariskan tanah air ini dengan keringat dan darah, tidak malukah kita jika kita hanya menghabiskan umur tanpa manfaat. Para Pejuang Negeri ini telah berjuang beratus tahun, siang dan malam, demi meraih perdamaian, tidak malukah jika kita sekarang malah sibuk bertengkar satu sama lain?

Ayat kedua:

“Dan engkau melihat manusia masuk ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong”.
Secara spiritual, ini berarti bahwa, ketika wajah kebenaran telah ditampilkan nyata, orang segera menerimanya dengan segera, beramai-ramai, bergelombang-gelombang, berbondong-bondong.
Secara politis, agaknya begitulah juga watak manusia. Mereka cenderung mendekat kepada siapa yang tampak sedang memiliki kekuatan.
Dalam konteks negeri kita ini. Maukah kita sekarang berjuang memupuk keberhasilan, dalam bidang ekonomi, kesehatan, pendidikan, pertanian, tehnologi dan sebagainya. Satu bidang menampakkan keberhasilan, maka tampaklah satu bintang yang bersinar, dan jika setiap bidang pada masanya mencapai keberhasilan, bukankah cahaya Indonesia semakin terang di dunia. Jika sudah demikian, sudah pasti dunia akan berbondong-bondong melihat Indonesia Raya ini.

Lihat Juga :  Menjadi Muslim Kaaffah, Baik untuk Dunia maupun Akhirat

Perjuangan ini tidak bisa dilakukan sendirian, Al-Mukminu lil mukmini kal bunyani yasyuddu ba’dhuhum ba’dho, sabda Rasulullah s.a.w yang menyatakan bahwa seorang mukmin dengan mukmin lain harus saling menguatkan satu sama lain, saling mendukung, bukan saling menjatuhkan, merasa paling baik, dan perbuatan-perbuatan bodoh lain yang akhirnya malah menghancurkan diri sendiri.

Ayat ketiga:
“Maka bertasbihlah, dengan memuji kebesaran Tuhanmu dan mintalah ampunan kepadaNya. Sungguh Ia maha menerima taubat”.
Futuh Makkah dan ayat ini, lebih dari semata catatan tentang kemenangan umat Islam, tapi adalah wujud pertolongan Allah. Sebaimana juga Kemerdekaan Republik Indonesia adalah berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa.
Ingatkah kita tentang Raja Abraha yang perkasa tapi akhirnya tak berdaya atau kisah keangkuhan Fir’aun, juga pesan moral dalam kisah Titanic.

Seberapapun dahsyat capaian manusia, ia tetap kecil di tengah gelaran keagungan semesta. Lebih-lebih di depan penciptanya. Kita perlu memandang dan menempatkan setiap keberhasilan menurut hakikatnya.
Dengan begitu, kita bisa benar-benar menghayati apa makna keberhasilan dan untuk apa keberhasilan. Bukan untuk diburu setengah mati, diperebutkan dengan segala muslihat, lalu untuk dibanggakan ketika teraih, atau dikutuk ketika lepas, apalagi disalahgunakan ketika sudah tergenggam di tangan demi menuruti macam-macam nafsu hewani. (*/Artikel tulisan H Abdul Harris Lc/Penyuluh Agama Islam Kemenag Lahat)

Tags

Berita Terkait

Close