BERITA TERKINI

Islam, dan Merdeka ” Indonesia ” Miskin di Negeri Kaya Raya

AsSajidin.com PALEMBANG – 17 Agustus 1945, tepatnya 74 tahun lalu bangsa Indonesia menyongsong harapan kemerdekaan bagi seluruh rakyatnya. Diakui atau tidak, namun kemerdekaan tersebut merupakan efek dari serangkain peristiwa besar  agama Islam.

Dalam sebuah buku, berjudul “ Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia “ terkisah bahwa,  pasca Jepang bertekuk lutut pada Sekutu,15 Agustus 1945, sejumlah pemuda yang mendengarnya melalui radio asing mendatangi Bung Karno yang baru kembali dari Dallat, Saigon, Vietnam. Para pemuda yang dipimpin murid Tan Malaka, Sukarni, itu mendesak Bung Karno agar memproklamirkan kemerdekaan RI saat itu juga.Namun, Putera Sang Fajar mengatakan, Saya orang yang percaya pada mistik.

“ Saya tidak dapat menerangkan dengan pertimbangan akal, tidak dapat menjelaskan mengapa tanggal 17 lebih memberi harapan kepadaku. Akan tetapi saya merasakan di dalam kalbuku bahwa dua hari lagi adalah saat yang baik. Angka 17 adalah angka keramat. 17 adalah angka suci.”tulis Bung Karno dalam bukunya yang fenomenal itu.

”Pertama-tama,” lanjut Bung Karno, ”kita sedang berada dalam bulan Ramadhan, waktu kita semua sedang berpuasa. Hari Jumat ini Jumat Legi. Jumat yang berbahagia dan suci. Dan, hari Jumat tanggal 17. Alquran diturunkan tanggal 17. Orang Islam sembahyang 17 rakaat dalam sehari. Mengapa Nabi Muhammad memerintahkan 17 rakaat, mengapa tidak 10 atau 20 saja? Karena itu, kesucian angka 17 bukan buatan manusia.” Tulisnya.

Menanggapi hal tersebut, Pengamat Politik Palembang Dr. Tarech Rasyid, M.Si  juga mengungkapkan hal senada. Menurutnya, negara bangsa yang diajarkan oleh Rasulullah tersebut adalah negara yang mengayomi seluruh rakyat yang penuh kebhinekaan dengan satu kesatuan. Oleh sebab itu, melalui Piagam Madinah yang memuat 47 pasal, Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wassalam, berhasil mempersatukan berbagai kalangan baik dari muslim dan nonmuslim dalam sebuah ikatan kebangsaan yang disebut sebagai umat.

“ Saya rasa, para pendiri bangsa ini juga sangat memahami hal tersebut. Sehingga ideologi Pancasila dan Undang-Undang 1945 sangat jelas memenuhi semua elemen bangsa termasuk kebebasan memeluk agama. Hanya saja, butir pertama sila pertama adalah bentuk tunduk dan patuh kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa,” katanya.

Perlu untuk diketahui, sambung Tarech, Pasal 25 Piagam Madinah tersebut sangat jelas berbunyi: “Kaum Yahudi dari Bani Awf adalah satu umat dengan kaum mukminin. Dan kaum Yahudi agama mereka dan bagi kaum muslimin agama mereka. Kebebasan ini berlaku pula bagi sekutu-sekutu dan diri mereka sendiri, kecuali bagi yang zalim. Karena hal demikian dapat merusak diri, keluarga, masyarakat dan persatuan suatu peradaban”.

Lihat Juga :  Jangan Kita Jadi Agen Kerusakan di Muka Bumi, Sebuah Renungan

“ Jadi, sesungguhnya Islam tidak pernah mengenal negara agama. Bahkan, setelah wafatnya Rasulullah sekalipun, para khalifah penggantinya tidak mendirikan negara agama. Mereka tetap mempertahankan negara bangsa meskipun menerapkan syariat Islam bagi pengikutnya. Dan menerapkan syariat agama lain kepada setiap pemeluknya. Kecuali jika mereka mengganggu kesepakatan dalam berbangsa dan bernegara, maka mereka perlu diadili menurut peraturan kenegaraan dan pemerintahan yang telah disepakati. Itu membuktikan bahwa, sesungguhnya islam sangat toleran sekali ya toh,” jelasnya sembari menyebut bahwa, bersatunya umat Islam saat peristiwa penistaan agama oleh Ahok beberapa waktu lalu adalah butik bahwa, Islam itu bersatu.

Merdeka Baru Sekedar Teori

Sementara itu, berdasarkan Kamus Besar Bahasia Indonesia (KBBI), merdeka adalah (1) bebas dari penghambaan, penjajahan, dsb; (2) tidak terkena atau lepas dari tuntutan;(3) tidak terikat, tidak tergantung kepada orang atau pihak tertentu;leluasa. Dari sini kita dapat menarik definisi sederhana dari kata merdeka yaitu sebuah kondisi di mana tidak adanya tekanan dan tidak tergantung dengan pihak lain, adanya keleluasaan dan kemandirian.

Untuk diketahui bahwa, usia kemerdekaan RI 2019 ini telah masuk usia ke 74 tahun. Dalam hitungan puluhan tahun itu, sudah lebih dari cukup kiranya bagi kita untuk melihat apakah kita (rakyat Indonesia) benar-benar telah merasakan merdeka secara seutuhnya? Pasalnya, dalam rentang puluhan tahun itu kondisi rakyat Indonesia kian sengsara. Mulai dari angka kemiskinan, pengangguran, anak-anak terlantar yang tak mampu mengenyam pendidikan semakin tahun semakin meningkat. Belakangan jumlah kriminalitas pun kian merajalela yang membuat kita merasa tak aman di negeri sendiri. Kasus-kasus perampokan, pelecehan dan pemerkosaan menjadi menu harian di layar kaca.Bahkan, dari segi budaya dan pemikiran, generasi remaja semakin merosot moralnya.

“ Bapak memperkosa anak, anak membunuh orang tua, antara saudara kandung melangsungkan pernikahan, budaya tawuran, pergaulan bebas, dan rasa hormat yang mulai tergerus adalah salah satu ciri bahwa sebenarnya,  adat ketimuran yang kita miliki  semakin ditinggalkan oleh generasi bangsa dan digeser oleh budaya asing lewat media dan fashion. Itu artinya, kita akan memukan anak bangsa bermoral asing di dalam negara yang muaranya adalah penjajahan moral anak-anak kita, ” ujar Anggota DPR RI Eva Kusuma Sundari seraya menyebut 76 UU yang dihasilkan pasca reformasi, semuanya  berbau pesanan asing dan itu artinya, kemerdekaan ini baru sebatas teori.

Lihat Juga :  One Day One Hadist : Tangan di Atas Lebih Baik daripada di Bawah

“ Rakyat harus ikhlas menahan mahalnya harga kebutuhan pokok dalam negeri yang disebut agraris ini. Rakyat harus merogoh kocek berlebih untuk membeli minyak di tengah negeri yang katanya penghasil minyak nomor tiga di dunia ini. Semua itu atas dasar membebeknya pemerintah oleh aturan internasional di bawah komando negara adidaya. Belum lagi, kekayaan negeri ini yang semakin dikuasai oleh asing maupun aseng. Hal ini mengakibatkan rakyat miskin di tengah melimpah ruahnya kekayaan alam. Tentu kita melihat bagaimana fenomena busung lapar anak-anak Papua di tengah gundukan gunung emasnya. Pengolahan SDA nya justru di nikmati oleh PT. Freepot Mc. Moran yang sampai hari terus melakukan perpanjangan kontrak hingga puluhan tahun mendatang. Sungguh, bagaikan anak ayam yang mati di lumbung padi. Indonesia miskin dalam negeri yang kaya raya,” tuturnya www.voa-islam.com

Sejarawan Asep Kamabali dari Komunitas Historia Indonesia misalnya, berpendapat bahwa rangkaian perlombaan peringatan hari Kemerdekaan Indonesia seperti panjat pinang dan balap karung, tak punya efek positif dalam momen kemerdekaan . Bagi Asep, hari kemerdekaan itu diperingati sebagai upaya untuk mengenal sejarah dan budaya bangsa dengan mengenali para pejuang karena mereka yang melahirkan bangsa ini, dan memberikan kesempatan untuk menikmati kemerdekaan dengan mengorbankan keringat, darah dan air mata.

Mestinya, tutur Asep , banyak hal yang dapat dilakukan untuk memperingati 17 Agustus, seperti napak tilas, lomba pembacaan proklamasi, atau lomba mirip pahlawan. “panjat pinang” adalah warisan kolonial yang kurang mendidik. Apa sih bangganya kalau menang panjat pinang misalnya di kelurahan. Dari perpsektif sejarah  tampaknya mereka memandang kegiatan itu sebagai warisan kolonial yang dipandang tidak mendidik dan tidak relevan untuk perayaan momen peringatan HUT RI masa kini

Menurut Asep, lomba-lomba seperti panjat pinang, sepakbola laki-laki dengan daster ala ibu-ibu, makan kerupuk dan sebagainya justru semakin menjauhkan bangsa Indonesia, terutama generasi muda dari nilai-nilai sejarah. Selain itu, ia juga menilai lomba makan kerupuk membuat anak muda semakin lupa dengan nama dan nilai perjuangan para pahlawan..

“Harusnya lomba mirip pahlawan, lomba membacakan puisi kebangsaan, lomba desian wajah pahlawan, lomba menyusun puzzle. Intinya, semua lomba yang harus kita lakukan untuk mengenalkan pada sejarah dan itu jauh lebih mendekatkan (pada nilai kemerdekaan),” ungkapnya seraya  memperkenalkan  wawasan sejarah bagi generasi muda lewat  Night at the Museum.

Editor : Jemmy Saputera

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Close