MOZAIK ISLAM

Kisah Tiga Pengikut Nabi yang Doanya  Dikabulkan

 

AsSAJIDIN.COM —  Tiga kisah yang dialami pengikut nabi di bawah ini memperlihatkan betapa pentinya doa. Doa harus diperankan dalam kehidupan kita. Karena doa tidak sekadar bentuk formal untuk memohon sesuatu kepada Allah,  tapi juga bentuk pengakuan akan kelemahan kita sebagai manusia sekaligus pengakuan akan kemaha-kuasaan Allah sebagai Tuhan semesta alam.

Dalam kitab al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, Imam Abu Bakr al-Thurthusyi mencatat beberapa riwayat tentang doa yang dikabulkan. Berikut beberapa riwayatnya untuk dijadikan pelajaran.

Riwayat yang pertama menceritakan Sayyidina ‘Uqbah bin Nafi’ yang sembuh dari kebutaan setelah diajarkan doa dalam mimpinya. Ia adalah kemenakan Sayyidina ‘Amr bin ‘Ash dan seorang jenderal yang bertugas sejak era Khalifah Umar bin Khattab sampai Daulah Umayyah. Lahir di Makkah tahun 1 H, dan wafat di Aljazair tahun 63 H. Berikut kisahnya:

وحكي عن الليث بن سعد أنه قال: رأيت عقبة بن نافع ضريرا ثمّ رأيته بصيرا، فقلت له: بم رد الله عليك بصرك؟ فقال: أتيت في المنام فقيل لي: قل يا قريب يا مجيب يا سميع الدعاء، يا لطيف لما يشاء، رُدّ عليَّ بصري، فقلتها فرد الله عليَّ بصري

Diceritakan dari al-Laits bin Sa’d, ia berkata: “Aku melihat ‘Uqbah bin Nafi’ dalam keadaan buta, kemudian aku melihatnya (sudah bisa) melihat (kembali).”

Aku bertanya kepadanya: “Dengan apa Allah mengembalikan penglihatanmu?”

Ia menjawab: “Aku bermimpi dan dikatakan kepadaku: ‘Ucapkanlah: Yâ qarîb, ya mujîb, ya samî’ad du’â, ya lathîf li mâ yasyâ’u, rudda ‘alayya basharî (wahai Tuhan yang Maha-Dekat, wahai yang Maha-Mengabulkan, wahai yang Maha-Mendengarkan doa, wahai yang Maha-Lembut atas apa-apa yang dikehendaki-Nya, kembalikanlah penglihatanku). Kemudian aku mengucapkan doa tersebut dan Allah mengembalikan penglihatanku.” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2002, h. 40-41)

Riwayat kedua menceritakan Imam Abdul Malik bin Habib al-Qurthubi (174-238 H), seorang ulama mazhab Maliki dari Cordova, Andalusia. Ketika itu ia sedang dalam perjalanan menggunakan perahu, dan air laut bergelombang sangat besar. Berikut riwayatnya:

Lihat Juga :  PPPA Daarul Quran-Masjid Annur Gelar Moeslimah Fest 2018, Ada Lomba Majelis Taklim, Hingga Datangkan Artis Cantik Terry Putri

وروي أبو محمد بن أبي زيد أن عبد الملك بن حبيب الذي يقال له: عالم الأندلس كان مستجابا، وأن البحر هاج بهم في اللجة، فقام فتوضأ ثمّ رفع يديه إلي السماء فقال: اللهم ماذا العذاب الذي أوتينا، وما هذه القدرة؟ اللهم إن كنت تعلم أن رحلتي هذه كانت لوجهك خالصا، ولإحياء سنن رسولك فاكشف عنا هذا الغم، وأرنا رحمتك كما أريتنا عذابك، فكشف الله عنهم بلطفه في الوقت

Diriwayatkan dari Abu Muhammad bin Abu Zaid bahwa Abdul Malik bin Habib, seorang ahli ilmu dari Andalusia, (pernah) dikabulkan doanya. (Ketika itu) terjadi ombak laut yang sangat besar. Kemudian Abdul Malik bin Habib berwudhu dan menengadahkan kedua tangannya ke langit. Ia berucap: “Ya Allah, azab apa ini yang ditimpakan kepada kami, dan qudrah (kehendak) apa ini? Ya Allah, kiranya Engkau tahu bahwa sesungguhnya perjalananku ini semata-mata untuk (mengharapkan ridha)-Mu, dan untuk menghidupkan sunnah Rasul-Mu, maka hilangkanlah kesusahan ini dari kami, dan perlihatkanlah rahmat-Mu kepada kami sebagaimana Engkau telah memperlihatkan azab-Mu.” Kemudian Allah menghilangkan kesusahan mereka seketika itu juga dengan kemaha-lembutan-Nya.” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, , 2002, h. 38-39)

Riwayat ketiga menceritakan mimpi Imam Ibnu Khuzaimah tentang Imam Ahmad bin Hanbal, pendiri mazhab Hanbali. Imam Ibnu Khuzaimah (223-311 H) adalah seorang ahli hadits dan fiqih dari mazhab Syafi’i. Ia terkenal dengan kitab kumpulan haditsnya, Shahîh Ibnu Khuzaimah. Berikut riwayatnya:

وحكي عن ابن خزيمة أنه قال: لما مات أحمد بن حنبل كنت بالاسكندرية، فاغتممت، ورأيت أحمد بن حنبل في المنام وهو يتبختر، فقلت: يا أبا عبد الله؟ أي مشية هذه؟
فقال مشية الخدام في دار السلام، قلت: ما فعل الله بك؟ قال: غفر لي، وتوجني، وألبسني نعلين من ذهب، وقال: يا أحمد، هذا بقولك القرآن كلامي، ثم قال: يا أحمد ادعني بتلك الدعوات التي بلغتك عن سفيان الثوري وكنت تدعو بها في دار الدنيا
فقلت: يا رب كل شيء بقدرتك علي كل شيء، اغفر لي كل شيء ولا تسألني عن شيء، فقال: يا أحمد هذه الجنة فادخلها، فدخلتها

Lihat Juga :  Masya Allah!! Kevin Dapat Hidayah Ketika Sedang Berbelanja

Diceritakan dari Ibnu Khuzaimah, ia berkata: Ketika Ahmad bin Hanbal meninggal, aku sedang berada di Iskandariah, aku pun bersedih. Lalu aku melihat Ahmad bin Hanbal dalam mimpi, ia berjalan dengan gaya yang menawan. Aku pun bertanya: “Wahai Abu Abdillah, jalan macam apa ini?”

Ahmad bin Hanbal menjawab: “Jalannya para pelayan di rumah keselamatan.”

Aku bertanya lagi: “Apa yang diperbuat Allah kepadamu?”

Ia menjawab: “Allah telah mengampuniku, memahkotaiku, dan memakaikan kepadaku dua sandal dari emas.” Dia berfirman: “Wahai Ahmad, (anugerahKu) ini karena perkataanmu bahwa Al-Qur’an adalah kalam-Ku,” kemudian Allah berfirman lagi: “Wahai Ahmad, berdoalah kepada-Ku dengan doa yang telah disampaikan Sufyan al-Tsauri kepadamu.” Aku pun berdoa dengan doa-doa tersebut di kehidupan dunia (ketika aku masih hidup). Aku berdoa:

“Yâ rabbi kulli syai’in, bi qudratika ‘alâ kulli syai’in, ighfir lî kella syai’in wa lâ tas’alanî ‘an syai’in (Wahai Tuhan segala sesuatu, dengan kuasa-Mu atas segala sesuatu, ampunilah aku (dari) segala sesuatu (dosa dan kesalahan), dan jangan Kau tanyakan sesuatu pun kepadaku.”

Lalu Allah berfirman: “Wahai Ahmad, surga ini, masuklah kau ke dalamnya, maka aku pun memasukinya.” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, , 2002, h. 41)

Dengan berdoa, kita bisa merendahkan kesombongan kita, dan perlahan-lahan membangun kesadaran kita, bahwa sebaik apa pun usaha manusia, akan bertambah kebaikannya dengan memasrahkan sepenuhnya kepada Allah. (*/sumber: nu.online)

 

 

Tags

Berita Terkait

Close