KOLOMSYARIAT

Akhir Zaman yang Begitu Menakutkan

Oleh: H. Emil Rosmali

 Ketika para ulama menggambarkan betapa menakutkannya akhir zaman itu, kita pun merasa semua ini tak berarti lagi. Bahkan dalam banyak hadis disebutkan bahwa sabar yang dirasakan oleh setiap umat beriman, seperti mengnggemgam bara api, saking banyaknya fitnah dan ancaman.

Seorangulama bernama, Abu Fatiah Al-Adnani, menuliskan dalam sebuah buku tentang akhir zaman, mengutip hadis Rasulullah yang menyebut bahwa; “Akan datang pada manusia suatu zaman di mana orang yang bersabar dalam agamanya bagaikan orang yang menggenggam bara api.” [HR. At-Tirmidzi, Al-Fitan, hadits no. 2361]

Begitulah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalalam memberikan gambaran betapa dunia ini begitu hiruk pikuk dengan berbagai kemudaratan dan kehebohan yang munkar dan godaan duniawi yang begitu dahsyat. Gambaran ini pun merupakan kondisi zaman di mana kita hidup sekarang ini.

Suharto pernah bilang, walaupun zaman ini zaman edan, wong kita jangan ikut edan. Pas banget sebagai nasehat tentunya, tetapi kebalikannya sekarang ini, orang pintar jadi seperti bodoh pada zaman ini, orang bodoh apalagi, makin terlihat kedunguannya. Alasannya, orang bodoh tak mampu berbuat apa apa, dan orang pintar bagaikan terlepas dari tali ikatan imannya yang tadinya demikian kuat mengikat dirinya. Rocky Gerung bilang, banyak orang kehilangan akal sehatnya.

Namun, Rasulullah pernah berkata dalam sabdanya, bahwa biarlah umat Islam itu sakit hatinya, dan luka fisiknya, asalkan tali pengikat tetap kokoh untuk mempersatukan dirinya dengan Iman kepada Allah. Bukan saja pahala yang kalian peroleh, namun juga imbalan syurga bila kalian tetap kokoh dalam Iman dan amaliah.

Dari Abu Umaiyyah Asy-Sya‘bani ra, dia berkata: Aku pernah mendatangi Abu Sya‘labah Al-Khusyani dan bertanya kepadanya, “Bagaimana pendapatmu mengenai ayat ini?” Dia bertanya, “Ayat yang mana?” Maka aku pun membaca ayat: “Hai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian, tiadalah orang yang sesat itu akan memberi madharat kepada kalian apabila kalian telah mendapat petunjuk. (Al-Mâ’idah [5]:105).

” Maka dia pun menjawab, “Demi Allah, engkau telah menanyakannya kepada orang yang ahli tentangnya. Aku pernah menanyakan makna ayat ini kepada Rasulullah saw. Maka, beliau bersabda,   ‘Teruskanlah olehmu untuk selalu melakukan amar makruf nahi munkar hingga engkau akan menyaksikan kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diperturutkan, kehidupan dunia yang diutamakan, serta orang-orang yang terpesona terhadap berbagai pendapat yang dikeluarkannya.

Hendaknya kamu hanya bergaul dengan orang-orang yang searah denganmu dan jauhilah orang-orang yang awam. Sebab setelah zamanmu itu akan datang suatu zaman penuh cobaan di mana orang yang memegang teguh agamanya ibarat menggenggam bara api. Ketahuilah, saat itu orang yang terus berusaha untuk memegangi agamanya maka pahalanya sama dengan 50 orang yang juga melakukan hal yang sama dari kalian’.” (Kemudian, Abdullah bin Mubarak berkata, “Orang selain Utbah menambahkan riwayat ini dengan redaksi: ‘Apakah yang 50 kali itu dari generasi kami kami atau generasi mereka?’ Rasulullah saw, ‘Untuk mereka’.”) [HR. Abu Dawud, Al-Malâhim, hadits no. 4319]

*Merebaknya Kebohongan*

Dari Abu Hurayrah RA berkata, RasululLah SAW bersabda, “Di akhir zaman nanti akan muncul para dajjal, para pendusta. Mereka mendatangi kamu dengan perkataan yang tidak pernah kamu dengar, juga bapak-bapakmu.Hendaklah kamu waspada, jangan sampai mereka menyesatkan kamu dan jangan sampai mereka mendatangkan fitnah bagi kalian.” (HR. Muslim)

Lihat Juga :  Tiga Kelakukan ini Dapat Merusak Amal Sedekah

Syaikh Maher Ahmad ash-Shufiy dalam tulisan beliau Asyrath as-Sa’ah menukil hadits tentang kemunculan para pendusta sebagai tanda-tanda sughra wa wustha (tanda-tanda kiamat kecil dan sedang). Adapun kemunculan Dajjal yang buta sebelah matanya termasuk‘alamat al-kubra (tanda besar kiamat).

Kedatangan tanda-tanda dari yang kecil, sedang dan kubra terjadi susul-menyusul tanpa henti dari waktu ke waktu, kurun ke kurun. Menurut beliau ‘alamat ash-shugra semua telah terjadi, kita sedang berada pada periode ‘alamat al-wustha, diambang kemunculan ‘alamat al-kubra.

Ibnu Mandhur dalam Lisan al-‘Arab mengatakan “Setiap pendusta adalah dajjal, bentuk plural-nya dajjalun, dinamakan demikian karena menutupi kebenaran dengan kedustaannya”.Beberapa hadits shahih yang lain menyebut jumlah para pendusta tersebut secara definitif yang mencapai hampir tiga puluhan orang. Mereka semua meng-klaim sebagai nabi.

Bahkan, terdapat hadits yang menegaskan bahwa empat dari ketigapuluh orang tersebut adalah perempuan. Antara lain tukang sihir Sajah dari bani Tamim yang telah muncul di zaman Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq bersamaan dengan nabi-nabi palsu yang lain seperti Aswad al-Ansi, Thulaihah dan Musailamah al-kadzdzab. Generasi di belakangnya ada Al-Mukhtar ats-Tsaqafiy, Al-Mirza Abbas di Iran, Mirza Ghulam Ahmad di India, Mahmud Muhammad Thaha di Sudan. Di level lokal ada Mosaddeq yang mengaku sebagai Al-Masih Al-Mau’ud, juga Lia Aminuddin yang mengikuti jejak tukang sihir Sajah.

Lihat Juga :  Ayat ke-4 Al-Fatihah, Maaliki Yaumiddiin atau Maliki Yaumiddiin?
Selain person-person yang secara definitif telah mengaku sebagai nabi dan telah terbukti kedustaannya, keadaan akan terus berjalan memenuhi iradah kauniyah qadariy yang telah ditetapkan oleh Allah atas makhluq-Nya, dengan tetap adanya orang-orang yang menyusul mengaku Nabi sehingga memenuhi jumlah yang telah di-nubuwah-kan.
*Fenomena Kekinian*

Jika kita memperhatikan definisi yang dibeberkan di atas,   sebenarnya memiliki sifat lebih umum, yakni aksi menutupi kebenaran dengan kedustaan, tanpa membatasi apakah kebohongannya disertai dengan meng-klaim sebagai nabi atau pun tidak. Kita sering menyaksikan bagaimana kekuasaan dengan kewenangan, penguasaan data dan informasi, media massa yang berkemampuan untuk mengarahkan opini, mendistorsi informasi dan menyebarkannya, biaya unlimited untuk menggerojok publik dengan informasi yang dikehendaki, memungkinkan pengendalian penyebaran informasi sesuai kehendaknya, mana yang ingin dikukuhkan sebagai ‘kebenaran’ (meskipun tidak sesuai fakta) dan mana yang dinafikan meskipun merupakan fakta yang sesungguhnya.

Rasulullah bersabda Artinya : “Tidaklah datang kepada kalian suatu masa kecuali setelahnya lebih jahat dari sebelumnya, sehingga engkau akan bertemu dengan Allah (Robb kalian).” (HR. Bukhari). Hadist di atas sangat relevan dengan kondisi yang dialami oleh Umat Islam saat ini. Karena keadaan saat sekarang ini lebih buruk dari sebelumnya. Umat Islam disingkirkan bahkan dianiaya dan itu terjadi dimana-mana.(*)

Berita Terkait

Close