ALFURQON SCHOOLPENDIDIKAN

Islam Menyoroti Kasus MOS SMA Taruna Indonesia Palembang, Penerapan Disiplin Bukan dengan Kekerasan

 

AsSAJIDIN.COM —  Kisah pilu yang merenggut dua siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) Taruna Indonesia Palembang yang meninggal dunia betul-betul jadi pukulan dunia pendidikan di Indonesia, terutama di Sumsel.

Kisah ini pun sempat menjadi sorotan nasional bahkan berbagai pihak ada yang mengecam ada yang melihat sebaga praduga tak bersalah. Bahkan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) juga sempat turun gunung meninjau sekolah yang berada di kawasan Sukbangun II Palembang tersebut.

Lantas, bagaimana Islam melihat peristiwa pilu ini? Lalu benarkan tindakan kekerasan dilakukan dalam upaya pendisilpinan?

Proses tarbiyah atau pun pola pendidikan, bahwa jauh sebelum kita dilahirkan, Islam telah mengajarkan dengan pola disiplin, damai, mengayomi, tegas tapi tetap santun dan beretika sebagaimana yang telah dicontohkan Baginda Nabi Muhammad SAW.

Fenomena kekerasan yang terjadi di SMA Taruna Indoensia Palembang membuat sejumlah elemen pun merasa ironis dan berharap ini menjadi kisah terakhir baik itu di dunia pendidikan atau pun proses tarbiyah lainnya. Sehingga pada gilirannya proses kedisilpinan tak dipahami sebagai pembenaran penindakan kekerasan.

Demikian disampaikan oleh Ustaz HM Nurdin Mansur yang merupakan salah satu ulama Bumi Sriwijaya yang aktif mengisi ceramah di Masjid Agung Jayo Wikromo, Jumat (26/7/2019).

Lihat Juga :  Jangan Lelah Terus Tanamkan Nilai Kejujuran dan Tanggungjawab kepada Peserta Didik

“Semestinya sekolah sebagai pendidikan selain memberikan pengetahuan, yang paling penting adalah mendidik prilaku, budi pekerti. Tapi ironisnya saat ini ada beberapa sekolah yang memberikan kesan tidak baik, keras, kasar sampai menelan korban dan kematian. Jadi sekolah seperti tidak memberikan contoh akhlak yang baik,”ujar Ustaz Nurdin Mansyur.

Lebih lanjut Pimpinan Majlis Ta’lim An Nur ini menjelaskan bahwa seharusnya kedisiplinan dicontohkan awal melalui ibadah sholat dan proses MOS lain yang orientasinya membawa akhlak yang baik. Apalagi di era saat ini dimana tantangan generasi muda semakin kompleks.

Pola keras, penganiayaan dan radikal hanyalah akan berdampak pada bomerang pada proses pendidikan yang menjadi budaya. Karena yang akan dianiaya akan menjadi senior pada akhirnya dan kembali akan melakukan hal sama seperti perploncoan dan sejenisnya kepada juniornya.

“Dan ingatlah, kekerasan apapun namanya yang kita lakukan kepada orang lain, adalah bentuk penzholiman dan yakinlah bahwa Alloh SWT akan membalas kezholiman itu,”tegasnya.

Dikatakan Ustaz bahwa Program MOS seharusnya lebih menanamkan pelatihan akhlak dan mental. Mulai dari akhlak pada sesama, pada guru dan lain sebagainya. Dan semua harus bermuata pada keimanan dan ketakwaan. Jika harus ada MOS yang bermuara pada bela diri dan sejenisnya jangan sampai ada kekerasan.

Lihat Juga :  Astaghfirullah, Srilangka akan Tutup 1.000 Sekolah Islam dan Larang Cadar

“Karena siswa itu ada orang tuanya, ada bapaknya, ada ibunya, ada pamannya. Bagaimana jika itu terjadi pada anak kita, keponakan kita. Maka jika ingin mengkader generasi pemimpin, maka contohlah Rosululloh SAW,”ujarnya.

Tak lupa Ustaz Nurdin Mansur menghimbau agar Pemerintah dan pembuat kebijakan terkait tentang pendidikan untuk memberikan langkah tegas agar hal serupa tidak terjadi lagi. Baik itu di Sumsel maupun secara menyeluruh di Indonesia. Agar tak terjadi penzaliman baik itu zholim terhadap guru maupun murid.

Rasulullah SAW bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh HR Muslim bahwa “Tkutlah kepada doa orang yang teraniyaya, sebab tidak ada hijab/ penghalang antara dia dengan Allah (untuk dikabulkannya doa itu).

“Dan Alloh juga mengingatkan dalam Surat Ibrahim ayat 42 bahwa “Dan jangan sekali-kali kamu (Muhammad) mengira bahwa Alloh lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-oranh yang zalim. Sesungguhnya Alloh memberi tangguh kepada mereka sampai hati yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak,”pungkasnya. (*/sumber: sibernas/Abdullah)

Back to top button