MOZAIK ISLAM

Kumpulan Bacaan yang Dianjurkan Diamalkan di Waktu Malam Sebelum Tidur

ASSAJIDIN.COM — Membaca ayat suci Alquran di malam hari sangat dianjurkan, seperti yang pernah disampaikan nabi kita Muhammad SAW. Tidak lain ayat itu agar bisa merasuk ke dalam jiwa, dipahami lalu diamalkan dalam kehidupan sehari hari. Selain itu juga untuk menjaga dan berlindung dari godaan serta kedatangan jin, syetan yang terkutuk.

Berikut adalah kumpulan bacaan yang disarankan dibaca dan diamalkan di waktu malam sebelum tidur.

. Membaca 2 (dua) ayat terakhir dari surah al-baqarah.

Rasulullah shallalahu alaihi wasallam bersabda :

َ الْآيَتَانِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ مَنْ قَرَأَ بِهِمَا فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ

“Dua ayat terakhir dari surat Al Baqarah, siapa yang membacanya pada suatu malam, niscaya kedua ayat itu akan mencukupinya.” [1][2]

2. Membaca surah Al-Mulk

Abdullah bin Mas’ud-radhiyallahu anhu-berkata :

من قرأ { تبارك الذي بيده الملك } كل ليلة منعه الله بها من عذاب القبر وكنا في عهد رسول الله صلى الله عليه و سلم نسميها المانعة وإنها في كتاب الله سورة من قرأ بها في كل ليلة فقد أكثر وأطاب

“Barangsiapa membaca “Tabarokalladzi bi yadihil mulk” (surat Al Mulk) setiap malam, maka Allah akan menghalanginya dari siksa kubur. Kami di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menamakan surat tersebut “al Mani’ah” (penghalang dari siksa kubur). Dia adalah salah satu surat di dalam Al-Qur’an, barangsiapa membacanya setiap malam, maka ia telah memperbanyak dan telah berbuat kebaikan.”[3].

Lihat Juga :  Awas, Dosa-dosa Kita Bukan Terhapus, Malah Tambah Besar, ini Tanda-tandanya

3. Membaca ayat kursi (surah Al-Baqarah : 255.

Rasulullah shallalahu alaihi wasallam bersabda :

إذا أوَيتَ إلى فراشِك فاقرَأْ آيةَ الكرسِيِّ ،
﴿ اللّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ﴾ ، لن يَزالَ عليك منَ اللهِ حافظٌ ، ولا يَقرَبُك شيطانٌ حتى تُصبِحَ

“Jika engkau hendak berbaring di atas tempat tidurmu, bacalah ayat Al Kursi (QS. Al-Baqarah : 255) karena dengannya engkau selalu dijaga oleh Allah Ta’ala dan syetan tidak akan dapat mendekatimu sampai pagi”. [4]

4. Membaca surah Al-Kafirun

Rasulullah shallalahu alaihi wasallam bersabda :

إذا أخذتَ مَضجعَكَ من الليلِ فاقْرأْ قُلْ يَا أيُّهَا الْكَافِرُونَ ثمَّ نَمْ على خاتِمَتِها فإنَّها بَراءةٌ من الشِّركِ

“Bila engkau hendak tidur, bacalah qul yaa ayyuhal kaafirun hingga usai, karena itu merupakan berlepas diri dari kesyirikan.”[5]

5⃣ Membaca surah al-ikhlas dan al muawwidzatain

Aisyah radhiyallahu anha menceritakan, bahwa kebiasaan Rasulullah shallalahu alaihi wasallam :

(( إذا أوى إلى فراشِه كلَّ ليلةٍ، جمع كفَّيه ثم نفث فيهما، فقرأ فيهما :
﴿ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ﴾ .
و﴿ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ﴾ .
و﴿ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ﴾ .
ثم يمسحُ بهما ما استطاعَ من جسدِه، يبدأُ بهما على رأسِه ووجهِه، وما أقبل من جسدِه، يفعل ذلك ثلاثَ مراتٍ ))

“Apabila hendak beranjak ke tempat tidurnya pada setiap malam, beliau menyatukan kedua telapak tangannya, lalu meniupnya dan membacakan: “QULHUWALLAHU AHAD..” dan, “QUL A’UUDZU BIRABBIL FALAQ…” serta, “QUL A’UUDZU BIRABBIN NAAS..” Setelah itu, beliau mengusapkan dengan kedua tangannya pada anggota tubuhnya yang terjangkau olehnya. Beliau memulainya dari kepala, wajah dan pada anggota yang dapat dijangkaunya. Hal itu, beliau ulangi sebanyak tiga kali.[6]

Lihat Juga :  Tiga Keistimewaan Malam Nuzulul Quran

6⃣ Membaca surah Al-Isra & Az-Zumar

Aisyah radhiyallahu anha menuturkan :

كانَ النَّبيُّ ﷺ لا ينامُ علَى فِراشِه حتَّى يقرأ بَني إسرائيلَ ، والزُّمَرِ

“Tidaklah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beranjak ke ranjangnya untuk tidur, hingga beliau membaca (surat) bani israil (surat Al Isra`) dan surat Az Zumar.”[7]

*) Urutan yang disebutkan disini, bukanlah urutan baku.

Allohu A’lam
_________
Catatan Kaki :
[1] HR. Bukhari no 4652, Muslim no 1341, dan selainnya.
[2] Makna “mencukupinya” yaitu, bacaan tersebut mencukupinya dari sholat malam, dijauhkan dari gangguan syeithon dan penyakit, atau dicukupi baginya untuk urusan dunia dan akhirat.
[3] HR. An-Nasa’i dalam Sunan Al Kubro no 10547, Dihasankan oleh Syeikh Al-Bani dalam Shohih At-Targhib wat Tarhib no 1589.
[4] HR. Bukhari no 3275.
[5] HR. Ahmad no 20924, dihasankan oleh Syeikh Al Bani dalam Shohihul Jami no 292.
[6] HR. Bukhari no 5017
[7] HR. At-Tirmidzy no 2844, Dishohihkan oleh Syeikh Al Bani dalam Shohih Sunan At-Tirmidzy no 2920. (*/ sumber tulisan Ustadz Hilal Abu Naufal)

Tags

Berita Terkait

Close