BERITA UTAMAKOLOM

Bekerja Malas, Maka Haram Imbalan Baginya

Jangankan honor kecil, honor sesuai standart pengupahan yang cukup tinggi pun tetap saja kinerjanya rendah

Hanya karena materi bisa jadi, seseorang tidak dapat mengerjakan tanggungjawab yang telah diterimanya. Makanya ada istilah; ‘Jangankan honor kecil, honor sesuai standart pengupahan yang cukup tinggi pun tetap saja kinerjanya rendah. Ini selalu ada sosok  seseorang di sebuah perusahaan atau instansi tertentu.

Sosok seseorang yang malas dan tak bertanggungjawab atas kewajiban yang telah diembankan kepadanya, sekarang ini makin banyak disekitar kita. Gajinya  Rp 1,4 juta sebulan dan pekerjaannya hanya setengah hari. Tetapi sayangnya, dia tak pernah bersedia menuntaskan pekerjaannya. Jangankan Rp 1,4 juta, seorang lain yang sudah Rp 2,9 juta sebulan pun diterimanya,  tetap saja pekerjaan yang menjadi kewajiabnnya selalu terbengkalai dan tak tuntas.

Alasannya, banyak kerjaan di rumah, ada saudara yang memerlukan bantuan dan  adek sakit gak ada yang bawa ke dokter dan kemarin kehujnana lalu saya flu. Ini jawaban standar jika diminta untuk mengerjakan tugasnya yang telah diembankan padanya. Harusnya, pekerjaan itu tidak usaha diterima, kalau memang kita tidak sanggup mengerjakannya.

Semua alasan di atas kenapa tidak masuk kerja sebenarnya hanya isapan jempol. Karena pada dasarnya mereka hanya malas dan mengulur-ulur waktu .Kit-kita ini suka malas bekrja tetapi tidak bersedia meninggalkannya, karena ada gaji atau salari yang bisa diterima setiap bulan.

*Bukan Ciri Islam *

Orang yang bekerja tak serius sebenarnya bukan cirri-ciri seorang Islam.

Ia adalah orang yang ingkar  atas kewajiabnnya. Karena bekerja itu adalah amal ibadah. Orang yang beriman wajib beramal ibadah. Jadi bila seseorang telah mendapat tanggungjawab, wajiblah ia mengerjakannya, agar ia terlepas dari keingkaran dan terlepas dari dosa yang diakibatkan tak memenuhi kewajiban.

Lihat Juga :  Dosa Ini Bisa Jadi Menjadi Penghalang Datangnya Rezeki

Baca Firman Allah ini: “Dan katakanlah : “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu’min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada Allah Yang Mengetahui akan ghaib dan yang nyata, lalu diberikan-Nya kepada kamu apa yang kamu kerjakan.” (At Taubah : 105).

  Dalam menafsirkan At Taubah ayat 105 ini, Quraish Shihab menjelaskan dalam kitabnya Tafsir Al-Misbah sbb :  “Bekerjalah Kamu, demi karena Allah semata dengan aneka amal yang saleh dan bermanfaat, baik untuk diri kamu maupun untuk masyarakat umum, maka Allah akan melihat yakni menilai dan memberi ganjaran buatmu”.

“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik apa yang telah mereka kerjakan.” (An Nahl : 97).

Islam mengajak kita untuk berusaha dan bekerja keras. Islam juga memerintahkan kita agar jauh dari sikap putus asa dan malas. Beberapa firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

*Malas itu Ingkar*

Dia-lah yang menjadikan bumi ini budak bagi kamu, berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali) setelah dibangkitkan.” (QS. Al-Mulk: 15). “Apabila shalat telah dikerjakan, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jum’ah: 10).  Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Tidaklah seseorang menyantap makanan yang lebih baik daripada makanan yang dihasilkan dari hasil kerjanya sendiri.” (HR. Bukhari).

Lihat Juga :  Yusril Sebut Wajah Ustad Arifin Ilham Terlihat Bahagia tidak Seperti Sedang Hadapi Musibah

“Diceritakan kepada Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam tentang orang-orang yang sangat semangat sekali dalam beribadah,  maka beliau berkata, “Itulah puncak semangat (pengamalan) Islam dan kesungguhannya. Setiap setiap semangat akan mencapai puncaknya, dan setiap puncaknya akan ada masa kemalasan. Barangsiapa yang waktu malasnya dalam batas wajar dan tetap dalam sunnah, maka dia telah menempuh jalan yang lurus. Dan barangsiapa yang kemalasannya melakukan kemaksiatan, maka itulah yang celaka.’ (HR. Ahmad, 2/165. Dihasankah oleh Al-Albany dalam kitab As-Silsilah As-Shahihah, no. 2850)

Abu Abdurrahman As-Sulami rahimahullah berkata: “Di antara aibnya –jiwa – adalah kemalasan yang menimpanya dalam hak-hak yang sebelumnya dilakukannya. Yang lebih aib lagi adalah orang yang tidak memperhatikan kekurangan dan kemalasannya. Yang lebih aib lagi, orang yang tidak tahu kemalasan dan kekurangannya.

Itulah imbalan yang sangat merugi bagi mereka yang malas bekerja dan memiliki tanggungjawab, tetapi tidak melaksanakan tanggungjawab itu secara sungguh-sungguh.(*)

Penulis:  Bangun Lubis

 

Tags
Close