SYARIAT

Adab dan Etika I’tikaf di Masjid dan Cara Rasulullah Beri’tikaf

ASSAJIDIN.COM — Bagi orang yang ingin beri’tikaf selama sepuluh hari di akhir bulan Ramadhan dan ini i’tikaf yang senantiasa dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sunnahnya dia masuk masjid setelah fajar di hari ke-21, dan keluar masjid setelah shubuh di hari Idul Fithr tanggal 01 Syawwal.

Inilah sunnah masuk dan keluar masjid bagi orang yang ingin ber i’tikaf selama 10 hari terakhir di bulan Ramadhan.

Di antara dalilnya adalah hadits shahih dari Aisyah radhiyallahu ta’ala ‘anha, dimana Aisyah radhiyallahu ta’ala ‘anha berkata: “Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf di sepuluh akhir bulan Ramadhan, aku memasangkan tenda untuknya, kemudian beliau shalat shubuh lalu masuk ke dalam tenda tersebut.

Jadi masuk ke dalam tenda tersebut di hari ke-21 ba’da shubuh.

Lihat Juga :  One Day One Ayat : Almukminun 1-9, Tanda-tanda Orang yang Bahagia Dunia Akhirat

Perkara-perkara yang membatalkan i’tikaf

Perkara yang membatalkan i’tikaf ada dua:

(1) Keluar dari masjid tanpa ada alasan syari’ atau tanpa ada kebutuhan yang mendesak.

Tetapi bila ada udzur syari’ keluar dari masjid karena kebutuhan, seperti karena ingin makan, mandi dan sebagainya, maka itu diperbolehkan.

(2) Jima’

Hal itu berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam surat Al Baqarah 187. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

“Dan jangan kamu campuri mereka, ketika kamu beriktikaf di masjid.”

Adab atau Etika beri’tikaf

Di antara adab orang-orang yang beri’tikaf adalah bahwasanya orang yang beri’tikaf dianjurkan untuk menyibukkan dirinya dengan berbagai ketaatan kepada Allah. Seperti; Shalat, Membaca Al Qur’an, Berdzikir, beristighfar, bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengkaji Al Qur’an, mengkaji hadits dan berbagai macam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Lihat Juga :  Tidak Sekadar Menutup Aurat, Ternyata ini Manfaat Baju Gamis yang Sesungguhnya

Sebagaimana dimakruhkan bagi orang yang beri’tikaf menyibukkan dirinya dengan ucapan maupun perbuatan yang tidak ada manfaatnya. Hanya sebatas membicarakan masalah duniawi (misalnya), sementara i’tikaf tujuannya adalah mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali dalam perkara yang mendesak bahwa itu harus dibicarakan (disampaikan).

Ikhwah sekalian A’adzaniyallah wa Iyyakum, ini materi yang bisa saya sampaikan pada kesempatan pagi ini, mudah-mudahan bermanfaat. (*/sumber: artikel Beni Sarbeni Abu Sumayyah,
Pondok Pesantren Sabilunnajah Bandung/Materi Tematik Ibadah Di Bulan Ramadhan dari Group WA Belajar Islam Beni Sarbeni)

Tags

Berita Terkait

Close