Uncategorized

Zakat Cara Menyelamatkan Diri dari Sifat Kikir yang Membinasakan Jiwa

AsSAJIDIN.COM —  Bersyukurlah atas nikmat Islam. Di dalamnya telah diatur bagaimana menjadi muslim yang baik. Ada rukun Islam dan rukun iman.

Rukun Islam ada lima, yakni syahadat, shalat lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, zakat dan haji bila mampu. Kesemuanya adalah cara untuk menggapai ridho Allah dan mencapai takwa, status yang paling mulia di mata Allah.

Khusus soal zakat (termasuk di dalamnya bersedekah), bermakna lebih luas lagi. Zakat  yang artinya mensucikan, adalah sarana atau alat yang diperlukan guna membersihkan secara batiniah harta dan kekayaan yang telah Allah Ta’ala anugerah kan. Amalan ini memiliki kedudukan penting sehingga menjadi bagian dari rukun atau pilar ajaran Islam.

Dalam Ihya Ulumiddin, Imam Ghazali mengemukakan tiga alasan mengapa zakat diwajibkan. Pertama, zakat berfungsi sebagai sarana mengapresiasi dua ucapan kalimat syahadat, memegang teguh tauhid, sekaligus bersaksi atas keesaan Allah Ta’ala. Dengan kata lain, siapa tidak berzakat, maka rusak bahkan batal syahadatnya.

Kedua, zakat menjadi alat untuk membersihkan (mensucikan) diri dari sifat kikir. Yaitu, sifat yang sangat merusak dan membinasakan jiwa manusia. Dan, ketika kaum Muslimin selamat dari sifat kikir, sampailah mereka pada keberuntungan yang sesungguhnya. “Dan siapa saja yang dirinya terpelihara dari sifat kikir, mereka itulah orang-orang yang beruntung” (QS al-Hasyr [59]: 9).

Lihat Juga :  99 Asmaul Husna, ini Keutamaan Menghafal dan Khasiatnya

Dengan demikian, menurut Imam Ghazali, tepat jika zakat dimaknai sebagai pembersih sekaligus penyuci, yaitu menyucikan diri dari sifat kikir yang membinasakan melalui cara mengeluarkan harta yang terkena kewajiban membayar zakat atasnya.

Ketiga, zakat merupakan ungkapan rasa syukur atas nikmat yang telah Allah Ta’ala berikan atas hamba-hamba-Nya yang tidak terhingga jumlahnya. Oleh karena itu, semua ibadah fisik merupakan perwujudan dari rasa syukur atas nikmat fisik, sedangkan menafkahkan sebagian harta merupakan wujud dari rasa syukur atas nikmat harta yang telah Allah Ta’ala karuniakan.

Alangkah keji orang yang melihat seorang fakir atau miskin yang membutuhkan pertolongan sampai si fakir atau si miskin itu memintaminta, tapi orang yang mampu itu malah menolak memberikan hartanya. Orang seperti ini sama saja dengan tidak mensyukuri nikmat yang Allah Ta’ala anugerahkan kepadanya.

Dari uraian Hujjatul Islam di atas dapat kita pahami bahwa zakat sangat strategis dan menentukan kedudukan iman seorang Muslim di hadapan Allah Ta’ala, terutama mereka yang dianugerahi harta. Apakah mereka benar-benar tunduk dan patuh kepa da Allah atau beribadah sesuka hatinya, mana yang ringan dikerjakan, mana yang dirasa berat ditinggalkan. Na’udzubillah.

Lihat Juga :  One Day One Hadist: Menolong dengan Mencegah Orang Berbuat Dzalim

Secara fikih, dalam pandangan empat mazhab dijelaskan bahwa waktu membayar zakat fitrah di bulan Ramadhan memang cukup panjang, mulai dari sebelum puasa hingga be berapa saat sebelum shalat Idul Fitri.

Akan tetapi, jika memperhatikan kondisi sosial ekonomi kaum Muslimin di Indonesia yang selain tersebar di berbagai pulau dan daerah yang tak mudah dijangkau, tentu saja menyegerakan zakat adalah suatu kebaikan, agar mereka yang tak mudah dikunjungi kecuali dengan persiapan perjalanan dan biaya yang tidak murah dapat segera mendapatkan hak mereka sebagai mustahik.

Prinsipnya zakat adalah rukun Islam, di dalamnya terkandung banyak rahasia kebaikan, yang jika disegerakan dalam penunaiannya, berarti juga kita segera menyelamat kan diri kita dari menunda-nunda ke baikan yang di dalamnya terkan dung rahmat dan ampunan Allah Ta’ala.(*/sumber: republika.co.id)

Tags

Berita Terkait

Close