LIFESTYLE

Mencegah Haid dengan Obat Agar Full Puasa, Bolehkah Menurut Islam?

ASSAJIDIN.COM — Banyak terjadi di kalangan masyarakat, agar bisa puasa full sebulan du bulan Ramadhan, kaum wanita sengaja meminta obat dari dokter agar tidak haid. Bagaimana menurut Islam tentang ini?
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjawab agar hal yang seperti ini kaum hawa berhati hati. Lebih baik tidak melakukan hal-hal semacam ini, karena pil-pil pencegah haid ini mengandung bahaya yang besar, “ini saya ketahui dari para dokter yang ahli dalam bidang ini. ” katanya.
Haidh adalah suatu ketetapan Allah yang diberikan kepada kaum wanita, maka hendaklah Anda puas dengan apa yang telah Allah tetapkan, dan berpuasalah Anda jika Anda tidak berhalangan. Jika Anda berhalangan untuk berpuasa maka janganlah berpuasa, hal itu sebagai ungkapan keridhaan pada apa yang telah Allah tetapkan.
(52 Su’alan an Ahkaiml haidh, Syaikh Ibnu Utsaimin, halaman 19)
Apakah tidak full puasa, hilang kesempatan meraih kebaikan, rido dan pahala di bulan ini?
Wanita-wanita lainnya yang mendapatkan haidh di bulan Ramadhan, bahwa haidh yang mereka alami itu, walaupun pengaruh dari haidh itu mengharuskannya meninggalkan shalat, membaca Al-Qur’an dan ibadah-ibadah lainnya, adalah merupakan ketetapan Allah, maka hendaknya kaum wanita bersabar dalam menerima hal itu semua.
Maka dari itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Aisyah yang kala itu sedang haidh :
إن هذا أمر كتبه الله على بنات آدم
“Sesungguhnya haidh itu adalah sesuatu yang telah Allah tetapkan kepada kaum wanita”.
Maka kepada wanita ini kami katakan, bahwa haidh yang dialami oleh dirinya adalah suatu yang telah Allah tetapkan bagi kaum wanita, maka hendaklah wanita itu bersabar dan janganlah menjerumuskan dirinya ke dalan bahaya, sebab kami telah mendapat keterangan dari beberapa orang dokter yang menyatakan bahwa pil-pil pencegah kehamilan berpengaruh buruk pada kesehatan dan rahim penggunanya, bahkan kemungkinan pil-pil tersebut akan memperburuk kondisi janin wanita hamil.
(Durus wa Fatawa Al-Harram Al-Makki, Ibnu Utsaimin, 3/273-274)
[Disalin dari buku Al-Fatawa Al-Jami’ah Lil Mar’atil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, Penerjemah Amir Hamzah Fakhrudin. Penerbit Darul Haq Jakarta]. (*/sumber : almanhaj.com)
Tags
Close