MOZAIK ISLAM

Masjid Ki Marogan, Sejarah Berdiri dan Keindahan Arsitektur Perpaduan China, Arab dan India

 

ASSAJIDIN.COM — Masjid Kiai Muara Ogan  atau akrab dengan nama Masjid Ki Marogan terletak di pinggiran sungai Musi dan sungai Muara Ogan Seberang Ulu Kertapati. Masjid ini dibangun oleh seorang ulama yang bernama Kiai Masagus Haji Abdul Hamid bin Mahmud alias Kiai Marogan pada tahun 1871 Masehi.

Selain istimewa karena usianya yang sudah berabad tahun, masjid ini juga dikenal sebagai masjid unik karena arsitekturnya. “Arsitektur bangunan Masjid dibuat dari perpaduan Cina, Arab dan India. Kenapa ada perpaduan ini, karena ibu dari Kiai Haji Abdul Hamid bin Mahmud adalah keturunan dari Cina”. ujar Ismail selaku bendahara Masjid Kiai Muara Ogan kepada Assajidin.com.

I

Dulunya Masjid ini bernama Masjid jami’ Kiai Haji Abdul Hamid bin Mahmud. Akan tetapi Masjid ini kemudian lebih dikenal dengan sebutan Masjid Kiai Muara Ogan yakni Masjid yang didirikan oleh Kiai yang bertempat tinggal di tepi Sungai Musi di Muara sungai Ogan

Lihat Juga :  Melihat Para Salaf Bersiap Menuju Ramadhan, Bagaimana Kita?

Masjid Kiai Muara Ogan awalnya dibangun menggunakan bahan dari kayu semua , Kemudian direnovasi secara besar-besaran pada tahun 1989 yaitu dengan meninggikan plafonnya.

Kubah masjid dahulunya bulat yang terbuat dari seng diganti dengan mustaka limas dikembalikan seperti semula. Lantainya diganti dengan keramik, pintu-pintu dan jendela diganti dengan yang baru, dengan tidak merubah unsurnya yang asli.

Renovasi ini menelan biaya lebih kurang 135 juta yang di tanggung sendiri oleh seorang pengusaha kayu asal palembang yaitu Bapak Kemas Haji abdul Halim bin Kemas Haji Ali, yang diresmikan oleh Menteri Kehutanan Republik Indonesia pada waktu itu Bapak Ir. H. Hasyrul Harahap.

Masjid ini pada waktu dibangun berukuran panjang 20 meter dan lebar 20 meter, setelah renovasi sekarang menjadi lebih kurang panjang 50 meter dan lebar 40 meter sehingga bisa menampung jamaah kira-kira 1500 orang bila hari raya idul fitri dan idul adha, bisa juga mencapai dua kali lipat jamaah apabila termasuk halaman masjidnya.

Lihat Juga :  Forum Pondok Pesantren Sumsel Studi Kepesantrenan ke Jawa Timur, ini Oleh-olehnya

Pada mulanya masjid ini digunakan sebagai tempat sholat dan belajar mengaji serta belajar agama bagi para keluarga dan masyarakat sekitar. Hingga sekarang masjid ini masih dipergunakan sebagai tempat ibadah atau tempat kegiatan-kegiatan keagamaan lainnya. (*)

kontributor: Ahmad Rizky

Tags

Berita Terkait

Close