NASIONALOPINI

Laliatur Qodar, Malam Seribu Bulan, Merundukkan Jiwa Menghapus Dosa

 Oleh: Bangun Lubis [ Pemimpin Redaksi AsSAJIDIN.Com ] 

BULAN Ramadhan adalah bulan menekan hawa nafsu. Banyak peristiwa yang begitu besar hikmahnya bagi manusia. Bahkan pada bulan pusa Ramadhan ini, ada satu malam yang disebut malam lailatul qodar, yang meruopakan satu malam dari seribu bulan yang bisa menghapus dosa-dosa kita bila memanfaatkannya dengan kekhusu’an dan ketaqwaan yang sempurna dengan ibadah yang baik dan tekun.

Ini kutipan firman Allah dalam AlQuran yang menjadi pedoman terhadap satu malam dalam seribu bulan yang dinamai dengan malam lailatul qodar. “Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi. dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (QS. Ad Dukhan [44] : 3-4).

Malam yang diberkahi dalam ayat ini adalah malam lailatul qadar sebagaimana ditafsirkan pada surat Al Qadar. Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.” (QS. Al Qadar [97] : 1)

Keberkahan dan kemuliaan yang dimaksud disebutkan dalam ayat selanjutnya,;”“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadar [97] : 3-5)

 Lailatul Qadar itu terjadi sebagaimana kebanyakan ulama menyebutkan, pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan, yang juga merupakan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari).

Terjadinya lailatul qadar di malam-malam ganjil itu lebih memungkinkan daripada malam-malam genap, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,”Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari)

Terjadinya lailatul qadar di tujuh malam terakhir bulan ramadhan itu lebih memungkinkan sebagaimana hadits dari Ibnu Umar bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, menyuruh umatnya, mencari dan menanti berusaha untuk memperolehnya.” “Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir, namun jika ia ditimpa keletihan, maka janganlah ia dikalahkan pada tujuh malam yang tersisa. (HR. Muslim).

27 Hari Ramadhan

Dan yang memilih pendapat bahwa lailatul qadar adalah malam kedua puluh tujuh sebagaimana ditegaskan oleh Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu. Namun pendapat yang paling kuat dari berbagai pendapat yang ada sebagaimana dikatakan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari bahwa lailatul qadar itu terjadi pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir dan waktunya berpindah-pindah dari tahun ke tahun. Mungkin pada tahun tertentu terjadi pada malam kedua puluh tujuh atau mungkin juga pada tahun yang berikutnya terjadi pada malam kedua puluh lima tergantung kehendak dan hikmah Allah Ta’ala. Hal ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan pada sembilan, tujuh, dan lima malam yang tersisa.”  (HR. Bukhari).

Lihat Juga :  Kisah Mbah Pedagang Pisang yang Mengaku Mendapat Qodaran

Seorang ulama besar, *Muhammad Abduh Tuasika*, sebagaimana dikutip dalam tulisannya di situs rumaysho.com, menyebutkan hikmahnya, bahwa Allah menyembunyikan pengetahuan tentang terjadinya malam lailatul qadar di antaranya adalah agar terbedakan antara orang yang sungguh-sungguh untuk mencari malam tersebut dengan orang yang malas.

 

Karena orang yang benar-benar ingin mendapatkan sesuatu tentu akan bersungguh-sungguh dalam mencarinya. Hal ini juga sebagai rahmat Allah agar hamba memperbanyak amalan pada hari-hari tersebut dengan demikian mereka akan semakin bertambah dekat dengan-Nya dan akan memperoleh pahala yang amat banyak. Semoga Allah memudahkan kita memperoleh malam yang penuh keberkahan ini.  

 

Ada tanda-tandanya

Tanda-tanda pada malam itu,  Udara dan angin sekitar terasa tenang. Sebagaimana dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Lailatul qadar adalah malam yang penuh kelembutan, cerah, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar lemah dan nampak kemerah-merahan.” (HR. Ath Thoyalisi.  Haytsami mengatakan periwayatnya adalah tsiqoh /terpercaya).

Kemudian,  Malaikat menurunkan ketenangan sehingga manusia merasakan ketenangan tersebut dan merasakan kelezatan dalam beribadah, yang tidak didapatkan pada hari-hari yang lain. Manusia dapat melihat malam ini dalam mimpinya sebagaimana terjadi pada sebagian sahabat.  Matahari akan terbit pada pagi harinya dalam keadaan jernih, tidak ada sinar. Dari Abi bin Ka’ab bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,”Shubuh hari dari malam lailatul qadar matahari terbit tanpa sinar, seolah-olah mirip bejana hingga matahari itu naik.” (HR. Muslim) (Lihat Shohih Fiqh Sunnah II/149-150)
Buan Ramadhan ini memang, oleh para ulama memberikan arti dan makna Ramadhan sebagai bulan untuk ‘mengasah’ jiwa, ‘mengasah’ ketajaman pikiran dan kejernihan hati, sehingga dapat ‘membakar’ sifat-sifat tercela dan ‘lemak-lemak dosa’ yang ada dalam diri kita.

Ada pengertian yakni   Syahr al-Qur’an (bulan Alquran), karena pada bulan inilah Alquran pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Selain itu, kitab-kitab suci yang lain: Zabur, Taurat, dan Injil, juga diturunkan pada bulan yang sama.
Inipun Umat Islam akan menuaikan puasa (shaum) pada bulan Ramadhan yang sepekanlagi akan tiba. Bulan ini adalah bulan yang dinanti. Bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT. Dalam bulan ini, ada satu malam yang istimewa yaitu malam lailatul qodar. Malam ini penuh dengan keberkahan, kedamaian, kesyahduan, dan malam yang mulia dari seribu bulan. Subhanallah.

Lihat Juga :  Alex : Enam Rumah Ibadah Dibangun di GSJ Bukti Sumsel Zero Konflik

Ulama memberikan pandangan pengertian shaum sebagaimana Firman Allah dan dari Hadist Rasulullah Shollollohu’alaihiwasallam, bahwa Ramadhan inilah semua unsur tingkat tinggi kebahagian sangan memungkinkan untuk dapat diraih. Puasa adalah ‘pelebur’ dosa. Mereka yang memohon ampun kepada Allah SWT dan menyesali perbuatan maksiat yang dilakukan sebelum ini, maka penuh harapan kepada Allah untuk mengampunkan dosa-dosa tersebut. Puasa adalah memulai lembaran baru. Lembaran dimana semua kisah usang yang penuh dosa hendaklah ditinggalkan, dan kemudian mengisi lembaran kita dengan tulisan yang mengukir kebaikan demi kebaikan.

Puasa membunuh nafsu maksiat. Bila selama ini nafsu maksiat atas apa saja yang tidak baik bagi Allah, maka haruslah ditinggalkan, lalu menggantinya dengan nafsu yang mengarahkan hati kepada ketundukan dan nafsu  kebaikan.

Puasa adalah mengeluarkan jiwa dari kebodohan atas semua tindakan yang hubbud dunya (Cinta dunia semata). Sikap sombong, angkuh, amarah, kedengkian, kebencian, kesusahan maupun prasangka buruk, handaklah diberangus. Bergantilah hati dengan  sinar kebaikan, penuh kasih sayang dan cinta karena Allah semata.

Rasulullah SAW berpasan dalam hadits; Puasa adalah perisai, maka janganlah (orang yang berpuasa) berkata tidak senonoh, dan berbuat jahil, dan jika ada orang yang memusuhinya maka hendaklah ia berkata sebanyak dua kali: “saya sedang berpuasa”.Begitulah besar makna dari berpuasa.

Rasulullah SAW dalam hadistnya mengingatkan kita agar kaum mukmin yang shaum, hendaklah tidak berlebih-lebihan perbuatannya. Mengumpulkan makanan sehingga mubasir, membeli pakaian yang tidak dibutuhkan. Tetapi Rasulullah menganjurkan untuk memberikan makanan kepada kaum seiman yang berpuasa dan para janda miskin, anak-anak yatim, saudara yang serba kekurangan. Ibadah ini menjadi sebuah jalan bagi kita untuk menjelmakan Lailatur Qadar  pada seluruh kehidupan kita.

Begitu banyak ibadah yang kita bisa lakukan, tetapi seringkali terabaikan. Maka bulan puasa Ramadhan adalah waktu yang tersedia untuk kita meningkatkan ibadah dan berbagai, menunjukkan kecintaan kita kepada Allah SWT dan diantara sesama manusia.(*)

 

Tags

Berita Terkait

Close