MOZAIK ISLAM

7 Hal yang Perlu Disiapkan jelang Ramadhan, Insya Allah Berkah

ASSAJIDIN.COM — Sebagaimana kita ketahui bersama Tidak lama lagi kita akan memasuki bulan Ramadhan.

Maka sudah seharusnya kita mempersiapkan diri untuk bertemu tamu agung yang bernama Ramadhan. Karena pada prakteknya banyak orang salah prioritas ketika bertemu bulan Ramadhan.

Mereka mepersiapkan stok makanan khawatir harga naik saat Ramadhan, mempersiapkan rumah, mempersiapkan hal-hal yang sebenarnya tidak prioritas, namun mereka lali untuk mempersiapkan hal yang prioritas. Di antara hal-hal yang perlu kita lakukan sebelum Ramadhan datang di antaranya adalah hal-hal berikut ini:

1. Pertaubatan yang Tulus

Meskipun taubat bisa dilakukan setiap saat, tetapi bertepatan dengan masuknya bulan Ramadhan, maka amat sangat disarankan untuk bersegera bertaubat, yang dengannya dapat menghapus dosa-dosa, baik dosa antara manusia dan Allah, maupun dosa antar sesama manusia. Dengan taubat yang dilakukan seorang muslim bisa memasuki bulan Ramadhan dengan diri yang bersih dari dosa, sehingga di bulan Ramadhan dia bisa menyibukkan dirinya dengan amalan ketaatan dan ibadah-ibadah lainnya dengan hati yang bersih dan tenang.

Sebagaimana diketahui bahwa di antara dampak buruk yang ditimbulkan oleh dosa adalah menghalangi pelakunya dari amalan ketaatan. Dikhawatirkan jika memasuki bulan Ramadhan tanpa bertaubat, dosa-dosa yang dilakukan sebelumnya membuat dia terhijab dari amal-amal sholeh yang seharusnya diperbanyak di bulan Ramadhan.

Allah SWT berfirman:

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya, “Dan bertaubatlah kalian semua kepada Allah wahai orang-orang beriman semoga kalian beruntung.” (QS An-Nur : 31)
Bahkan Nabi Muhammad SAW adalah orang yang banyak melakukan taubat di setiap harinya, meskipun dosa-dosa beliau telah dimapuni oleh Allah.

Diriwayatkan dari Al-Aghor bin Yasar –radhiyallahu anhu– bahwa Nabi Muhammad SAW Bersabda, “Wahai manusia, bertaubatlah kepada Allah, karena aku bertaubat kepada-Nya seratus kali sehari.” (HR Muslim, 2702)

2. Berdoa agar Dipertemukan dengan Ramadhan

Di antara kebiasaan para salaf sebelum datang Ramadhan adalah berdoa kepada Allah agar dipertemukan dengan bulan Ramadhan. Mualla bin Fadhl berkata :

كانوا يدعون الله ستة أشهر أن يبلغهم رمضان، ثم يدعونه ستة أشهر أخرى أن يتقبل منهم

Artinya, “Mereka (para sahabat) bedoa kepada Allah selama enam bulan agar mereka dipertemukan dengan Ramadhan, kemudian mereka berdoa enam bulan lainnya agar Allah menerima dari mereka amalan di Ramadhan.”

Kemudian seorang Tabiin yang bernama Yahya bin Katsir menyebutkan contoh doa yang sering dipanjatkan oleh para sahabat. Yahya bin Katsir berkata:

Lihat Juga :  Ramadhan Tahun ini Diperkirakan Genap 30 Hari

كان من دعائهم: اللهم سلمني إلى رمضان وسلم لي رمضان، وتسلمه مني متقبلاً

Artinya, “Di antara doa mereka adalah, “Ya Allah sampaikanlah saya pada bulan Ramadhan dan hadirkanlah Ramadhan kepadaku dan jadikanlah amal-amal (Rmadhan) yang aku lakukan diterima.”

3. Menghadirkan Perasaan Bahagia Bertemu Bulan Ramadhan

Di antara keutamaan yang Allah berikan kepada umat ini adalah Allah menganugerahkan bagi mereka musim-musim ketaatan. Di mana pada musim-musim ketaatan tersebut pahala dilipatgandakan. Dan salah satu musim tersebut adalah Ramadhan.

Di Ramadhan pintu-pintu surga dibuka, amalan-amalan ketaatan dilipatgandakan dan masih banyak keutamaan lainnya. Oleh Karena itu sudah sepantasnya seorang muslim menghadirkan rasa senang dengan kehadiran Ramadhan. Rasa senang yang dengannya menjadi salah satu sarana untuk memperbanyak amal-amal sholeh.

Adanya perasaan senang membantu hati an diri untuk mempersiapkan kedatangan Ramadhan sebaik-baiknya. Sebuah ilustrasi sederhana, ketika seorang ayah akan menunggu kelahiran anak pertamanya, maka dia diliputi rasa senang yang luar biasa. Dengan perasaan itu sang ayah mempersiapkan segala kebutuhan calon bayinya yang akan lahir ke dunia. Dibelikan baju, tempat tidur khusus, kamarnya dibikin senyaman mungkin dan persiapan lainnya. Tentunya hal yang serupa harus dihadirkan dengan kedatangan tamu agung bernama Ramadhan.

4. Menunaikan Hutang Puasa Wajib

Ini adalah teladan dari ibunda Aisyah –Radhiyallahu anha– dalam sebuah riwayat dari Abu Salamah bahwasanya Aisyah berkata, “Saya memiliki tanggungan puasa tahun lalu dan saya tidak bisa mengqodhonya kecuali pada bulan Sya’ban. (HR Bukhori Muslim)

Dari hadits ini para ulama berkesimpulan bahwa batas akhir qodho puasa Ramadhan adalah sebelum datang Ramadhan berikutnya. Maknanya, barangsiapa yang mengakhirkan qodho puasa Ramadhan sampai datang Ramadhan berikutnya tanpa adanya uzur syar’i maka dia berdosa.

Ibnu Hajar Al-Atsqolani berkata :

ويؤخذ من حرصها على ذلك في شعبان أنه لا يجوز تأخير القضاء حتى يدخل رمضان آخر

Artinya, “Dari kesungguhan Aisyah mengqodho puasa di bulan Sya’ban dapat diambil kesimpulan bahwa tidak boleh mengakhirkan puasa qodho sampai datang Ramadhan berikutnya.” (Fathul Bari 4/191)

5. Mempersiapkan Ilmu yang Cukup

Imam Bukhori di dalam Shohihnya membua satu bab yang berjudul “Ilmu sebelum berkata dan beramal.” Begitu juga dengan datangnya bulan Ramadhan. Harus diilmui terlebih dahulu sebelum memasukinya. Agar kita tidak menjadi orang yang merugi karena tidak bisa memanfaatkan momennya dengan baik karena tidak tahu ilmunya.

Lihat Juga :  Niat dan Doa Puasa Ramadhan Beserta Ibadah Sunnahnya

Ilmu yang paling penting terkait Ramadhan adalah ilmu tentang puasa. Apa saja rukun dan syaratnya, hal apa saja yang apa membatalkannya serta apa yang merusak pahala puasa.

Tidak kalah pentingnya adalah ilmu tentang amalan-amalan apa saja yang harus diprioritaskan ketika Ramadhan. Termasuk bagaimana para salaf menghadapi dan mengisi bulan Ramadhan.

6. Memperbanyak Puasa di Bulan Sya’ban

Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لا يَصُومُ ، فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلا رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ

Artinya, “Diriwayatkan dari Aisyah –radhiyallahu anha- bahwasanya Rasulullah SAW berpuasa sampai kami berpikir bahwa beliau akan berpuasa terus, dan tidak berpuasa sampai kami berpikir bahwa beliau tidak berpuasa. Dan saya tidak pernah melihat Rasulullah SAW puasa sebulan penuh kecuali di bulan Ramadhan, dan saya tidak pernah beliau banyak berpuasa melebihi puasa beliau di bulan Sya’ban.” (HR Bukhori Muslim)

Di dalam riwayat lain disebutkan bahwa Usamah bin Zaid bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, saya tidak pernah melihat engkau berpuasa sebanyak puasa engkau di bulan Sya’ban. Beliau menjawab, “Bulan Sya’ban adalah bulan banyak manusia karena berada antara Rajab dan Ramadhan. Sya’ban adalah bulan amalan manusia diangkat kepada Rab semesta alam dan saya ingin amalan saya diangkat sedangkan saya dalam keadaan berpuasa.” (HR Nasai)

Di samping itu bulan Sya’ban adalah pemanasan menjelang bulan Ramadhan, selain memperbanyak puasa, sudah seharusnya pula kita meningkatkan kualitas dan kuantitas amalan kita di Bulan Sya’ban. Tentunya kita ingin amalan kita diangkat kepada Allah sedangkan kita sedang memperbanyak amalan-amalan sholeh. Zikir, baca Al-Quran, sholat sunnah dan amalan lainnya.

7. Bersedekah dan berbuat baik

Berbuat baik setiap saat. Bersedekah dalam sempat sempit, menahan amarah, memaafkan, itulah ciri orang bertakwa seperti difirmankan Allah SWT dalam Alquran surat Ali imran 133-134. Inilah bekal kita sepanjang tahun hingga menjelang Ramadhan.

Semoga kita semua sudah siap menghadapi datangnya bulan ramadlan dengan bekal sebaik baiknya sehingga dimudahkan dapat berkumpul bersama di Jannah Aamiin. (*/artikel  tulisan : Hasfar F.R)

 

 

Tags
Close