Uncategorized

Setelah Mandi Junub, tak Perlu Lagi Wudhu untuk Sholat?

ASSAJIDIN.COM — Apakah orang yang mandi dengan meratakan air di seluruh badan tanpa berwudhu, tidak perlu wudhu ketika akan melakukan shalat?

Jawab:

Pertama : Apabila mandinya adalah mandi wajib seperti mandi junub, atau mandi karena haidh atau nifas, dan dia niatkan mengangkat hadats besar dan hadats kecil, maka mandi yang dilakukan sudah mencukupi dan dia tidak perlu berwudhu lagi.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya amalan-amalan adalah dengan niat, dan bagi setiap orang apa yang dia niatkan” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Yang demikian karena apabila hadats besar saja terangkat dengan cara mandi seperti ini lalu bagaimana dengan hadats kecil.

Lihat Juga :  The future steps of Scala – What to expect from upcoming releases

Kedua : Adapun apabila mandinya adalah mandi yang mustahab (dianjurkan) seperti mandi Jumat, mandi sebelum menghadiri shalat hari raya, atau mandi sebelum ihram, atau mandi karena ingin menyegarkan diri maka mandi tadi tidak mencukupi, dan dia harus berwudhu, yang demikian karena keumuman hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لاَ يَقْبَلُ اللَّهُ صَلاَةَ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ

“Allah tidak menerima shalat salah seorang diantara kalian apabila dia berhadats sehingga dia berwudhu” (HR, Al Bukhari dan Muslim)

Berkata Ibnu Taimiyyah:

” السنة للجنب أن يتوضأ ثم يغتسل، تأسيا بالنبي صلى الله عليه وسلم، فإن اغتسل غسل الجنابة ناويا الطهارة من الحدثين: الأصغر والأكبر أجزأه ذلك، ولكنه خلاف الأفضل، أما إذا كان الغسل مستحبا كغسل الجمعة أو للتبرد، فإنه لا يكفيه عن الوضوء، بل لا بد من الوضوء قبله أو بعده”

Lihat Juga :  Macam-macam Fitnah Dunia, Menurut Kumpulan Hadist Berikut ini

“Yang sunnah bagi orang yang junub adalah berwudhu kemudian mandi, untuk meneladani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apabila dia mandi janabah dengan meniatkan untuk mengangkat dua hadats (besar dan kecil) maka yang demikian mencukupi, tetapi ini menyelisihi yang afdhal. Adapun apabila mandinya adalah mandi yang dianjurkan seperti mandi jumat atau mandi kesegaran maka yang demikian tidak mencukupi, akan tetapi harus berwudhu sebelum atau setelahnya” (Majmu’ Al Fataawaa 10/175-176). (*/Sumber : Aplikasi Halo Ustadz tanya jawab dengan Dr. Abdullah Roy, Lc. MA)

Tags

Berita Terkait

Close