SYARIAT

Adab Menasihati Menurut Islam, Jangan Sampai Mempermalukan

AsSAJIDIN.COM — Islam itubindah. Bahkan untuk urusan menasihatopun ada adabnya agar yang dinasihati tidak merasa dipermalukan.

Syair Imam Syafi’i rahimahullah :

Sengajalah menasehatiku saat ku sendiri
Jauhkan aku dari nasehat di depan khalayak ramai
Karena nasehat di tengah manusia itu bentuk mempermalukan
dan aku tidak rela untuk mendengarkan_
Dan jika perkataanku ini tidak engkau ikuti maka jangan kaget bila nasehatmu tidak ditaati

(Diwan Imam Syafi’i, hal: 96)

Sekelas Imam Syafi’i saja, tidak mau mendengarkan nasehat yang disampaikan di hadapan manusia, maka bagaimana orang yang jauh di bawah beliau ketakwaan dan keikhlasannya, akan mau mendengarkannya?

Menasehati hendaklah sampaikan dengan empat mata, dan tidak di hadapan banyak orang. karena bisa saja orang yang anda nasehati bukan menjadi baik akan tetapi semakin jauh karena merasa di permalukan.

Lihat Juga :  Adab dan Doa Rasulullah SAW Ketika Bepergian

Tidak hanya di dunia nyata, menasehati secara diam-diam bisa di lakukan ketika di dunia maya dengan mengirim pesan kepada yang bersangkutan dan tidak menasehati di kolom komentar.

Al Hafizh Ibnu Rajab berkata :

“Apabila para Salaf hendak memberikan nasehat kepada seseorang, maka mereka menasehatinya secara rahasia… Barangsiapa yang menasehati saudaranya berduaan saja maka itulah nasehat. Dan barangsiapa yang menasehatinya di depan orang banyak maka sebenarnya dia mempermalukannya.”_* _(Jami’ Al ‘Ulum wa Al Hikam, halaman 77)_

Dan umumnya seseorang hanya bisa menerimanya saat dia sendirian dan suasana hatinya baik.

Itulah saat yang tepat untuk menasehati secara rahasia, tidak di depan publik. Sebagus apapun nasehat seseorang namun jika disampaikan di tempat yang tidak tepat dan dalam suasana hati yang sedang marah maka nasehat tersebut hanya bagaikan asap yang mengepul dan seketika menghilang tanpa bekas.

Lihat Juga :  Rumus Praktis Menghitung Zakat Mal

Apabila seseorang ingin menasehati maka harus dengan perilaku, sopan, lemah lembut, dan penuh kasih.
Tidak langsung berkata kasar dan memvonis.

Sebagian orang menampakkan diri sebagai penasehat sebagai penjaga benteng agama sebagai orang yang peduli untuk menjaga masyarakat dari kesesatan, dst.

Tapi sayang terselip di hati kecilnya disengaja atau tidak rasa ingin menjatuhkan saudaranya. Wallahul musta’an.(*/sumber : mutiararisalahislam/ Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny Lc, MA)

 

Tags
Close