POLITIK

Istilah Kecebong-Kampret, Merusak Tatanan Pesta Demokrasi 2019

Ustadz KMS Azhari Ilyas : Cebong-Kampret Harusnya Bersatu

AsSajidin.com Palembang.- Menuju Pemilu 2019, labelling Kecebong-Kampret semakin dikenal dalam lapisan masyarakat sebagai “olokan” kepada masing-masing kubu kandidat calon Presiden dan Wakil Presiden yang akan bertarung merebut hati masyrakat 17 April 2019 mendatang dinilai banyak kalangan sebagai perusak ciitra pesta demokrasi. Berikut AsSajidin akan mengupasnya dalam satu tulisan :

Allah SWT berfirman dalam Qs :  Al-Hujurat ayat 10 yang artinya : Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertaqwalah kepada allah agar kamu mendapat rahmat jadi perselisihan itu namanya i’tilaf itu selayaknya menjadi rahmat tidak bisa kita menginginkan orang lain menjadi seperti apa yang kita inginkan. Tidak bisa kita untuk meminta orang lain harus seperti pilihan kita itu memang sudah menjadi tabi’atnya setiap umat manusia. Berbeda itu boleh memang itu tabi’atnya manusia. Manusia itu berbeda-beda tidak akan sama.

Mengacu pada ayat di atas sebenarnya, sudah cukup jelas bahwa yang saat ini tengah melanda negeri Pra Pilpres 17 April 2019 yang di identikkan dengan istilah Kecebong-Kampret adalah sematan kata yang tidak mencerminkan bahwa mereka adalah bagian dari seorang mukmin yang beriman.

“ Ironis dan menyedihkan, kita seperti sudah kehilangan akal sehat, bahkan untuk mencaci maki dan saling menjatuhkan adalah hal biasa yang menjadi halal karenanya,” kata Ustadz KMS Azhari Ilyas Spd pemerhati kajian budaya Islam di Palembang, Selasa ( 22/1/19).

Sebenarnya dalam pandangan islam, kata Ustadz Ilyas perkataan seperti itu tidak dibenarkan apalagi saling menjatuhkan dan saling mencaci-maki. Politik boleh dijalankan tetapi pihak yang bersebrangan dan bersangkutan itu jangan saling menjatuhkan antara satu dengan yang lainnya, karena itu tidak bagus.

“ Boleh dan sah-sah saja jika berbeda pendapat.  Berbeda pilihan pun boleh, tetapi jangan sampai saling menjatuhkan apalagi saling mencaci-maki yang  akhirnya berujung

Lihat Juga :  Usulkan RUU Pesantren dan Pendidikan Keagamaan , Kakanwil Kemenag Acungi Jempol Buat PPP

peluang untuk berbuat dosa. Seharusnya kan, dari pada gaduh, lebih baik diantara Cebong-Kampret ini bersatu dari pada saling hina.  Kan kepentingan Indonesia jauh lebih besar dari pada hanya berkutat di lingkupnya sendiri,” ujarnya.

Jangankan urusan Pilpres,  Ustadz Ilyas menjelaskan, perbedaan mazhab dikalangan umat Islam pun terjadi. Namun perbedaan mazhab tersebut bukan berarti yang satu jauh lebih baik dari yang lain. Justru melalui perbedaan itu, Islam tumbuh dan berkembang mengikuti peradaban budaya masing-masing sesuai dengan mazhab nya.

“ Jika misalkan mazhab yang satu, katakanlah di Indonesia menganut paham Syafei maka mazhab ini sesuai dengan kondisi umat yang ada di dalamnya. Mungkin juga di Marokko mislanya, mazhab Syafei kurang cocok dengan kondisi kultur daerah tersebut. Dan mereka lebih cocok dengan mazhab Hambali. Sebagai contoh, orang Asia mengambil air wudhu dengan membasuh rambut tidak seluruhnya, namun di Marokko hal ini tidak biasa. Itu artinya, perbedaan pun, membawa kebersamaan dan keutuhan sebuah negeri,” ungkapnya.

Oleh karena itu sambungnya,  istilah Kecebong-Kampret seharusnya harus segera di akhiri, meskipun dalam dunia politik  hal  itu bisa di maklumi. Namun dalam syari’at islam , hal itu tentu tidak diperbolehkan.

Sementara itu,  Ustdza Inda Mulyati  S.Pd.I  Pengasuh Pondok Pesantren Muqimus Sunnah kepada AsSajidin turut angkat bicara. Menurutnya, istilah Kecebong-Kampret adalah padangan kubu masing-masing. Baik  Jokowi maupun Prabowo Subianto.

“ Saya rasa mereka punya hak untuk menterdepankan pilihan mereka, yang dianggap mereka jauh lebih baik dan harus di tonjolkan. Akan tetapi perlu juga di ingat bahwa, Islam punya aturan sendiri. Tidak bisa kita menterdepankan pilihan namun terkesan merusak tatanan kehidupan. Kan yang sering kita lihat saat ini adalah,pernyataan yang membabi buta, membela dukungannya mati-matian. Itu yang yang tidak elok,” urainya.

Lihat Juga :  Ikatan Pelajar Muhammadiyah Beri Penghargaan Tokoh Inspiratif Pelajar Kepada Wako Palembang

“ lagi pun kalau saya perhatikan ya, diantara dua kubu ini terkesan yang lebih panas itu justru para pendukung masing-masing. Jokowi atau pun Prabowo, Saya lihat biasa saja. Ini artinya, mungkin mereka kurang memahami bagaimana etika seorang muslim dengan sesamanya.Bukankah kita semua bersaudara, saudara mana ada saling membenci, ya kan, “ tambahnya,

Hal senada juga turut dikemukakan oleh H. Ahmad Iskandar Zulkarnain Lc, Ma Calon Legislatif yang akan bertarung dalam kontestasi Pileg 2019 mendatang. Ia menilai bahwa, istilah Kecebong-Kampret adalah perbedaan yang sunnatullah. Akan tetapi, jika arahnya menunjukkan indikasi emosi, permusuhan dan perpecahan ini yang tentu saja tidak boleh.

“ Dia akan keluar dari koridor  bingkai Ukhuwah Islamiyah yang tetap menjunjung tinggi etika dalam setiap detak kehidupan. Sangat di sayangkan memang, hanya karena berbeda pandangan politik kita harus bermusuhan. Kembali kan kepada hukum Allah dan Islam, agar kita dapat selamat sudaraku,” ajaknya.

Menanggapi hal itu,  Syafitri Irwan Dosen komunikasi Politik UIN Raden Fatah Palembang menutururkan, Kalaupun ada oknum yang mengatas namakan pendukung Joowi atau Prabowo seyogyanya diantara mereka tidak boleh saling menghina, menghujat, memfitnah.  Seharusnya mereka beradu berbeda pandangan, pilihan siapa yang layak siapa yang tidak layak untuk memimpin negara ini.

“ Sebenarnya Saya melihat istilah Cebong dan Kampret itu merupakan predikat yang sengaja dihembuskan dalam kerangka untuk mengecilkan, memburukkan, dan menghinakan kelompok tertentu itu tidak boleh. Bahkan dalam Islam memanggil dengan perkataan buruk pun juga tidak boleh apa lagi mengajak orang lain untuk memberikan pernyataan negative yang justru sebenarnya mencedera kerangka demokrasi yang selama ini kita banggakan. Silahkan berpolitik dengan hormat dan menyejukkan,” tutupnya.

Penulis : Mahasiswa Magang UIN Raden Fatah Palembang
Editor : Jemmy Saputera

Close