MOZAIK ISLAM

Tersesat Karena Mengikuti Kebanyakan Orang

Makanya kita harus memiliki ilmu yang benar dan sesuai ajaran Rasulullah,

 ASSAJIDIN. ComBeradab atau berprilaku menuruti orang kebanyakan menjadi sebuah kebanggaan dan serasa baha itu sebuah kebenaran. Bila tidak mengikuti kebanyakan orang akan disebut sebagai orang urdu alias terbelakang, tradisional dan kampungan.

Lalu kita pun mengikuti kehendak orang banyak itu, dan semua orang pun mengikutinya, karena takut dikatakan tidak trend dan tidak mengikuti selera kekinian. Padahal, sebenarnya mengikuti kebanyakan orang bisa jadi kita akan tersesat ke jurang yang makin jauh dari kebanaran.

Ustads Sudirman Lc pernah mengatakan dalam bagian kajiannya di Mushola An Nur Desember lalu, bahwa dia mengajak kita untuk melihat tanda-tanda yang diungkapkan para ulama dahulu, bahwa kebenaran atau beradab yang baik bukanlah karena manut kepada orang kebanyakan. Melainkan, bagaimana ilmu dan pengetahuan itu membenarkan adab, maupun prilaku yang kita miliki.’Makanya kita harus memiliki ilmu yang benar dan sesuai ajaran Rasulullah,”ujarnya.

Firman Allah saja berkata demikian, : //“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).”// [QS.al-An’am/6: 116].

Memang manusia cenderung mengikuti kebanyakan orang. Jika masyarakatnya senang dengan kesyirikan dan kebid’ahan, maka ia mengikutinya. Dan jika masyarakatnya baik merekapun menjadi baik pula. Hal ini persis sebagaimana yang disebutkan dalam hadist;

//’’Janganlah kalian menjadi orang yg suka mengekor orang lain. Jika manusia menjadi baik, maka kami juga akan berbuat baik. Dan jika mereka berbuat zhalim, maka kami juga akan berbuat zhalim.’ Akan tetapi mantapkanlah hati kalian, jika manusia berbuat baik kalian juga berbuat baik, namun jika mereka berlaku buruk, janganlah kalian berbuat zhalim.// Berkata Abu Isa: Ini merupakan hadits hasan gharib tak kami ketahui kecuali melalui jalur ini. [ HR. At turmudzi 1930 ].

Lihat Juga :  Spirit Ramadhan PPPA Daarul Quran Palembang, Konser Hijrah hingga Layanan Quran Call

Lebih parah lagi jika kebenaran diukur dengan kebanyakan manusia. Jika banyak manusia melakukannya, maka itulah kebenaran, tetapi jika sedikit yang melakukannya, maka hal itu dianggap kesesatan. Padahal kebenaran dan kesesatan harus diukur dengan al qur’an dan sunnah Rasulullah sallallahu alaihiwasallam. Sementara al qur’an telah menjelaskan bahwa kebanyakan manusia adalah sesat sebagaimana ayat di atas. Makna Ayat Secara Umum Para ulama’ ahli tafsir memberi keterangan tentang ayat diatas dengan penjelasan sebagai berikut ;

Imam Baidhowi rahimahullah berkata dalam sebuah buku kajian tafsir: “Yang dimaksud dengan umumnya manusia adalah orang-orang kafir atau orang-orang bodoh tentang agama atau pengikut hawa nafsu.” [Tafsir al-Baidhowi:2/199]

Syaikh Abdurrohman as-Sa’di rahimahullah berkata: “Ayat ini menjelaskan bahwa kebenaran itu bukan karena banyak pendukungnya, dan kebathilan itu bukan karena orang yang mengerjakannya sedikit. Kenyataannya yang mengikuti kebenaran hanya sedikit, sedangkan yang mengikuti kemungkaran banyak sekali. Kewajiban bagi umat Islam adalah mengetahui yang benar dan bathil, lihatlah jalan yang ditempuh.” [Tafsir al-Karimur Rohman: 1/270]

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya: “Sebagian menusia jika dilarang dari perbuatannya yang menyimpang dari ajaran syariat Islam atau menyimpang dari adab Islam berargumen umumnya manusia mengerjakannya. Jika demikian, bagaimana kita menjawabnya?

Lihat Juga :  Kajian Rutin Karyawan Transmart Palembang Bersama Dompet Dhuafa Sumsel

Mayoritas bukanlah dasar kebenaran, karena Allah azza wa jalla berfirman (Baca QS.al-An’am/6:116 dan QS.Yusuf/12:103]. Sedangkan tolak ukur kebenaran jika Allah azza wa jalla berfirman dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, atau ulama salafush sholih yang berfatwa.” [Majmu’ Fatawa wa Rosa’il, Ibnu Utsaimin: 3/103]

Selanjutnya beliau rahimahullah berkata: “Hendaknya kita tidak tertipu dengan mayoritas, karena mayoritas kada kala tersesat seperti ayat diatas (QS.al-An’am/6:116). Dari sisi lain, jika manusia tertipu dengan mayoritas sehingga dia menduga bahwa dialah yang menang, inilah penyebab manusia menjadi hina.

Kamu jangan berkata: Semua manusia berbuat demikian, mengapa kami sendiri yang tidak? Kamu jangan tertipu dengan mayoritas, jangan tertipu dengan umumnya orang yang hancur akidah dan akhlaknya sehingga kamu hancur bersama mereka, dan janganlah kamu tertipu dengan orang yang sukses, sehingga kamu termasuk orang yang sombong, sehingga kamu tinggalkan golongan yang sedikit, sebab boleh jadi yang sedikit itu lebih baik dari pada yang mayoritas.”

Maka sebagai mukmin yang baik, kita harus berpegang terhadap al qur’an dan as sunnah. Apa yang dinyatakan baik, maka kita nyatakan kebikannnya. Dan apa yang dianggap sesat, maka kita juga menyesatkannya, meski banyak orang yang menganggap baik. Jangan tertipu dengan banyaknya orang. Karena kebanyakan orang adalah tersesat, dholim dan bodoh. Hanya pada Allah kita memohon keistiqamahan di atas kebenaran hingga ajal menjemput.(*)

Penulis: Bangun Lubis

 

Tags
Close