Berita TerkiniMozaik Islam

Meniru Cara Rasulullah Menjadi Seorang Entrepreneur Sukses

AsSAJIDIN.COM — “Perhatikan olehmu sekalian, sesungguhnya sembilan dari sepuluh pintu rezeki di dunia ini adalah perdagangan,” kata Rasulullah dalam hadits riwayat Ahmad.

Sang ayah, Abdullah, wafat saat usianya baru dua bulan di dalam kandungan. Sementara sang bunda, Aminah, pergi untuk selama-lamanya manakala Rasulullah berumur enam tahun. Kondisi seperti ini membuat Rasulullah mandiri dan bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

Memang selepas ditinggalkan orang tuanya, Rasulullah diasuh kakeknya, Abdul Muthalib, lalu kemudian pamannya, Abu Thalib. Mulanya, ia mengandalkan kakek dan pamannya dalam memenuhi kebutuhannya. Namun, Rasulullah tidak bisa berpangku tangan terus menerus menunggu pemberian kakek dan pamannya. Ada rasa malu di dalam dada.

Akhirnya, ketika usianya delapan tahun Rasulullah sudah bekerja. Ia menggembalakan kambing-kambing elit Quraisy. Dari situ, Rasulullah mendapatkan upah untuk sekedar memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Ia menjalani pekerjaan ini selama empat tahun.

Ketika usianya 12 tahun, Rasulullah ‘banting setir.’ Ia ganti profesi. Tidak lagi menjadi penggembala kambing. Ia bekerja magang di ‘perusahaan’ sang paman, Abu Thalib. Ia menjadi karyawan bisnis pamannya dalam sektor ekspor-impor. Di usianya yang masih belia, Rasulullah bahkan beberapa kali ikut berdagang bersama pamannya ke Syam (sekarang Suriah). Ia magang pada pamannya selama kurang lebih lima tahun, hingga usianya 17 tahun.

Pada tahap ini, Rasulullah mulai belajar berwirausaha. Ia menyerap semua ilmu bisnis dan dagang dari sang paman dan mitra bisnisnya. Mulai dari kondisi pasar, penawaran dan permintaan (supply and demand), produksi barang, karakteristik pembeli, dan lain sebagainya.

Merujuk buku Agar di Surga Bersama Nabi, Rasulullah mulai membangun bisnisnya sendiri saat usianya 17 tahun. Meskipun masih pada tahap rintisan (start up). Dengan modal ‘gelar Al-Amin’, Rasulullah menjadi manajer investasi (investment manager). Banyak pemilik modal di Makkah yang ‘kepincut’ dengan Rasulullah. Mereka memasok barang dan modal untuk Rasulullah sehingga diputar menjadi lebih besar.

Lihat Juga :  Ribuan Orang Berbuka di Masjid Istiqlal, Kebutuhan Ifthar Capai Rp3,5 Miliar Setiap Ramadhan

Tidak hanya itu, Rasulullah juga memiliki modal pengalaman yang luar biasa dalam dunia perdagangan dan bisnis. Merujuk buku Muhammad A Trader, Rasulullah sudah menjadi pemimpin kafilah dagang ke luar negeri pada saat usianya baru 17 tahun. Bahkan, Ia berdagang hingga ke 17 negara lebih. Diantaranya Syam, Yordania, Bahrain, Busra, Irak, Yaman, dan lainnya.

Dalam Sirah Nabawiyyah, al-Mubarakfury menjelaskan bahwa Rasulullah menggandeng as-Saib bin Abus-Saib sebagai partner saat awal-awal memulai bisnis. Bagi Rasulullah, Abus-Saib adalah rekan terbaiknya dalam bisnis. Tidak pernah berselisih dan tidak curang.

Bisnis Rasulullah semakin moncer. Apa yang ia jual pasti untung. Pemilik modal menjadi senang. Pun para konsumen yang membeli dari Rasulullah. Mereka puas dengan barang dan cara Rasulullah berdagang.

Hingga akhirnya saat usianya 25 tahun, Rasulullah menikah dengan Khadijah, salah satu pemilik modal yang selama ini berinvestasi kepadanya. Dengan ini, bisnis Rasulullah semakin ‘menjadi-jadi.’ Bayangkan saja, sebelumnya Rasulullah sudah sukses dengan bisnisnya. Kemudian, ia menjadi suami dari seorang yang juga pebisnis sukses. Seorang yang menanamkan investasi kepadanya. Maka tidak heran setelah pernikahannya dengan Khadijah, bisnis Rasulullah –dan Khadijah- menjadi begitu besar.

Kesuksesan Rasulullah dalam dunia bisnis setidaknya tercermin dari mahar yang diberikan kepada Khadijah. Jika dituangkan dengan nilai mata uang sekarang, mahar Rasulullah untuk Khadijah mencapai sekitar enam miliar rupiah.

Lihat Juga :  Pempek Sangat Diminati Masyarakat Inggris, Lihat Berapa Harga Jualnya di Sana

Laode Masihu Kamaluddin dalam bukunya Rahasia Bisnis Rasulullah mencatat, waktu atau durasi Rasulullah sebagai pengusaha (entrepreneur) lebih lama dibandingkan dengan ia sebagai seorang nabi dan utusan Allah. Rasulullah menjalani hidup sebagai seorang pebisnis selama 25 tahun, bahkan lebih. Sementara, ia menjadi seorang nabi dan rasul Allah ‘hanya’ 23 tahun (usia 40-63 tahun).

Rasulullah menerapkan beberapa langkah dan strategi hingga ia sukses dalam dunia kewirausahaan (entrepreneurship). Ia pandai melakukan segmentasi dan menetapkan target pasar (targeting). Sebelum menjajakan suatu barang, Nabi Muhammad saw. memiliki pengetahuan yang mendalam tentang kebiasaan, cara hidup, cara makan dan minum, serta kebutuhan yang diperlukan masyarakat setempat.

Ia juga berhasil melakukan segmentasi sehingga ketika datang ke kota A maka barang-barang yang dibawa adalah ini dan itu. Barang-barang yang dibutuhkan masyarakat tersebut. Ketika datang ke kota B maka barang yang dibawa lain lagi. Dan seterusnya.

Rasulullah juga menjalin hubungan yang baik (silaturahim) dengan pelanggannya. Tidak hanya itu, ia melakukan ekspansi usaha ke wilayah-wilayah lain, buka hanya satu wilayah saja. Ia selalu menjelaskan kekurangan dan kelebihan barang dagangannya dengan jujur kepada para pelanggannya. Mematok harga sesuai dengan nilai komoditasnya dan tidak melakukan perang harga dengan pedagang lainnya.

Di samping itu, Rasulullah juga memiliki branding dan sikap yang baik. Rasulullah mendapatkan gelar Al-Amin dari masyarakat Arab. Ini menguntungkannya dalam melaksanakan proses perdagangan dengan para pelanggannya. Rasulullah juga mengedepankan sikap jujur, ikhlas, dan profesional. Ia tidak pernah membohongi pelanggannya dan ikhlas menjalankan usahanya. (*/sumber: nu.or.id)

Berita Terkait

Close