AdvertorialBerita TerkiniBERITA UTAMA

EDISI TERBARU DESEMBER 2018-RABIUL AKHIR 1440 H

Spirit Reuni Akbar 212  untuk  Kesejahteraan Umat

Assajidin.com — Mulanya banyak upaya untuk menggagalkan rencana Aksi Reuni Akbar 212. Banyak komentar yang mempesimiskan gerakan umat ini. Maklum saja, kegiatan ini berlangsung di tahun politik.  Tapi berkat ridho Allah Swt, ternyata Reuni 212 yang dipusatkan di Monas, Jakarta, Ahad, 2 Desember 2018,  berlangsung damai, sejuk, tertib dan aman, pesertanyapun diluar perkiraan, yang datang berbagai penjuru kota.

Reuni 212 nyaris tidak ada bau kampanye Pemilihan Presiden [Pipres] 2019, walaupun dihadiri langsung Capres No.02 Prabowo Subianto, termasuk pula Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, sejumlah tokoh nasional tampak hadir antara lain, Ketua MPR sekaligus Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN), Zulkifli Hasan, Wakil Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Hidayat Nur Wahid, Sekjen PKS Mustafa Kamal, Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais, dan juga Ketua Badan Pemenangan Nasional pasangan capres-cawapres Prabowo-Sandiaga, Djoko Santoso.

Ditengah jutaan umat peserta Reuni 212 yang dikawal 20.000 personil gabungan TNI, Polri dan Pemda, dari atas panggung besar di Monas,  Capres No.02 Prabowo Subianto  justru sadar melarang dirinya sendiri untuk mengambil kesempatan berkampanye, walaupun massa peserta aksi terus meneriakkan,”Prabowo..Prabowo, Prabowo”.

Dalam pidato sambutannya selama hampir tiga menit, Prabowo menegaskan “tidak akan panjang bicara” karena sebagai capres Indonesia “harus patuh dan mengikuti semua ketentuan”.

Lihat Juga :  Iran Membara, Sudah 16 Orang Warga Tewas, ini Penyebabnya

“Saya tidak boleh bicara politik pada kesempatan ini, saya tidak boleh kampanye. Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih bahwa saya diundang hari ini oleh panitia. Ini kehormatan bagi saya, ini kebanggaan bagi saya,” papar Prabowo sebagaimana dikutip dari BBC Indonesia.com.

Aksi Reuni diawali dengan sholat tahajud, sholat subuh berjamaah di Monas dengan doa qunut nazilah dan pagi menjelang siang, massa berkapaian putih, berkopiah dan Muslimah dengan mukenahnya, sambal memegang bendera tauhid, merah putih merangsek menuju kawasan Monas.

Selanjutnya dalam rekaman pidato yang diperdengarkan kepada massa, Pemimpin Front Pembela Islam [FPI] Rizieq Shihab dari kota Makkah Al Mukarromah, lebih menyoroti kondisi bangsa Indonesia yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Salah satunya, Rizieq menilai system utang dalam ekonomi yang menghancurkan ekonomi rakyat kecil alias ‘wong cilik’.

Ceramah Rizieq itu mengkritik sejumlah masalah yang terjadi sepanjang era pemerintahan Jokowi-JK sejak 2014. “Pemberhalaan ekonomi neolib berdasarkan sistem utang ribawi yang telah mengundang ‘penjajah asing’ yang kejam dan ganas serta bengis sehingga menghancurkan perekonomian rakyat jelata,” kata Rizieq, sebagaimana dikutip dari CNN Indonesia.com.

Tokoh Reuni 212 ini juga menyinggung soal pembiaran penodaan dan penistaan agama, ketidakadilan, kemaksiatan, dan kebohongan serta hoaks. Oleh karena itu, Rizieq lantas meminta umat Islam untuk membuat perubahan dengan menyerukan dilarang memilih calon presiden dan calon legislatif yang diusung oleh partai penista agama.

Lihat Juga :  Warung Modern Umat Siap Bangkitkan Ekonomi Umat Sesuai Syariah

Reuni 212 merupakan spirit baru bagi umat islam dan ada juga ikut peserta nonmuslim, untuk mengambil porsi lebih banyak lagi dalam menentukan peningkatan kesejahteraan umat dan bangsa Indonesia tentunya. Peserta aksi yang datang dari berbagai penjuru kota di Indonesia ini, memang ingin bersatu dengan cara yang sukarela, tidak dibayar, dan tanpa pamrih. Kesatuan ukhuwah Islamiyah ini menjadi kekuatan tawar menawar dalam mencapai tujuan kesejateraan umat. Inilah sejatinya spirit Reuni 212 tersebut.

Kalau selama ini dari segi fisik seperti jumlahnya yang jutaan, diluar dugaan, sangat luar biasa, itu boleh-boleh saja, sah sah saja, akan tapi yang lebih penting lagi adalah bagaimana spirit itu diarahkan untuk kepentingan umat secara komprehensif, menukik kepada persoalan-persoalan umat yang lebih substansif.

Mafhum, umat islam belum begitu sejahtera, pemenuhan kebutuhan pokok masih sulit, ekonomi mandeg, lapangan kerja masih belum terbuka luas, kemiskinan, Pendidikan yang mahal, kebutuhan hidup yang sulit, penegakan hukum yang tajam ke bawah, belum lagi masalah TKI di luar negeri yang diperlakukan tidak adil. Dan sederat pekerjaan rumah umat yang harus diselesaikan oleh umat sendiri. Di bidang politik, banyak juga pihak-pihak yang alergi dengan Perda Syariah. Spirit Reuni 212 ini menjadi modal utama untuk memperjuangan kesejahteraan umat.[]Aspani Yasland

Berita Terkait

Close