SYARIAH

Pentingnya Bersikap Tadharru’, Seperti Apa?

AsSAJIDIN.COM — Pada suatu malam di pelataran Ka’bah, Thawus bin Kisan RA mendapati Ali bin Husein—yang lebih dikenal dengan Zainul Abidin RA—sedang bermunajat kepada Allah SWT. Dengan penuh pengharapan (tadharru’), terdengar ia merendahkan dan menghinakan dirinya diiringi dengan deraian air mata bermohon agar Allah SWT memberikan ampunan kepadanya.

Setelah Ali bin Husein menyelesaikan munajatnya, Thawus menghampirinya. Ia berkata, “Wahai cucu Rasulullah SAW, mengapa engkau menangis seperti ini, sementara engkau memiliki tiga keistimewaan yang tak dipunyai orang lain. Pertama, engkau adalah cucu Rasulullah SAW. Kedua, engkau akan mendapat syafaat dari Rasulullah SAW. Dan ketiga, keluasan rahmat-Nya untukmu.”

Mendengar pernyataan Thawus itu, Ali bin Husein menjelaskan kepadanya bahwa semuanya itu bukan jaminan ia akan mudah mendapatkannya. Beliau berkata, “Ketahuilah bahwa hubungan nasabku dengan Rasulullah, bukan jaminan keselamatanku di akhirat sana setelah aku mendengar firman Allah SWT, ‘Apabila sangkakala ditiup, maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu dan tidak ada pula mereka saling bertanya’.” (QS al-Mukminun [23]: 101).

Lihat Juga :  Bacaan Takbiratul Ihram dan Doa Iftitah, Lengkap dengan Artinya

Sedangkan syafaat Nabi SAW, maka Allah SWT berfirman, “Dan mereka tiada memberi syafaat, melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya.” (QS al-Anbiya` [21]: 28). Dan terakhir, terkait rahmat-Nya, Allah berfirman, “Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS al-A’raf [7]: 56).

Kisah di atas mengajarkan kepada kita untuk bersikap tadharru’ (penuh harap dan merendahkan diri) dalam beribadah kepada Allah SWT, terutama ketika sedang berdoa. “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri (penuh harap) dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS al-A’raf [7]: 55).

Lihat Juga :  Tiga Golongan Manusia Dilihat dari Caranya Menghadapi Musibah

Tadharru’ merupakan akhlak dan etika yang harus kita bangun ketika membina hubungan dengan Allah SWT. Hal ini kita lakukan sebagai wujud penghambaan diri kita kepada Zat Penguasa alam semesta, Allah SWT.

Tadharru mengandung makna tadzallul (kerendahan dan kehinaan diri) dan istiqamah (ketundukan diri). (Jami’ul bayan ‘an ta’wil al-Qur’an, Abu Ja’far Muhammad bin Jarir ath-Thabari). Oleh karena itu, ketika kita ber-tadharru’ kepada Allah SWT, akan menumbuhkan kesungguhan dan kekhusyukan dalam beribadah dan berdoa serta menjadi sebab Allah SWT akan meninggikan derajat kita di sisi-Nya.(*/sumber: republika.co.id)

Back to top button