Berita TerkiniKeluargaMozaik IslamPariwisata

Mimpi Harnojoyo, Wujudkan Palembang Wisata Sejarah

AsSajidin .com Palembang.– Setelah berhasil menghidupkan kawasan Sudirman yang dulu dikenal dengan sebutan Sungai Tengkuruk, dan menyulap pelataran sungai musi dengan hiasan corak warna-warni melalui program ‘ Musi Bercorak ‘ . Kini Palembang Nampak lebih cindo dan menarik berpadu dengan Plaza Benteng Kuto Besak (BKB).

Hal ini mengingat kawasan tersebut merupakan pusat Kota Palembang, ada Musium Sultan Mahmud Badaruddin, Benteng Pertahanan kesultanan Palembang (BKB), ada Jembatan Ampera dan Masjid Agung. Semuanya terlihat lebih menarik jika disaksikan melalui satu titik. Apalagi saat ini pembangunan Tugu Belido yang digadang-gadang lebih megah dari patung Merlion Park di Singapura sudah  berdiri.

Untuk diketahui,  jika dahulu Palembang dikenal dengan julukan Venesia Dari Timur itu karena keberadaan sungai yang banyak mengalir di wilayah Palembang membuat kota ini seolah-olah terapung bagaikan di Venesia, Italia.  Akan tetapi keberadaan sungai yang dahulu begitu banyak kini nyaris tinggal sejarah. Seperti halnya, Sungai Kapuran dan Sungai Tengkuruk, Sungai Tengkuruk sendiri ditimbun oleh Belanda pada tahun 1928 untuk keperluan pembuatan jalan yang sekarang lebih dikenal dengan nama Jalan Jendral Sudirman.

Walikota Palembang, H Harnojoyo mengatakan jika, pihaknya telah mendesain penataan kawasan sejarah di sekitar BKB dan Kawasan Sekanak dengan menjadikannya sebagai objek wisata bukan tanpa sebab.

“ Ditinjau dari segala sudut, baik history maupun tata ruangnya kawasan ini sangat strategis. Apa lagi kawasan ini menyatu dan terkoneksi langsung dengan BKB. Oleh karena itu saya yakin, kedepan Insya Allah akan menjadi Kawasan wisata sejarah,” harapnya.

Sementara itu Kms Muhamad Yunus Fahmi,  Ketua Himpunan Zuriat Buyut Lokan Segaran  Pangeran Tumenggung Ponco Negoro, dan Pemerhati Sejarah Kesultanan Palembang Darussalam yang dibincangi MaklumatNews.com (AsSajidin Group)  beberapa waktu lalu menyampaikan harapanya jika, setiap pembangunan yang ada di Palembang jangan sampai menggusur nilai-nilai sejarah yang ada.

Lihat Juga :  Hukum Bakar Bendera Berlafaz Kalimat Tauhid Menurut MUI

Sebagaimana diketahui bersama, Lanjut Yunus jika, Kesultanan Palembang yang identik dengan nuansa islami telah melahirkan banyak tokoh-tokoh islam yang cukup disegani bahkan hingga ke Jarizarah Arab seperti Abdul Somad al-Palembani, Syihabuddin Abdullah Muhammad, Kemas Fachruddin, Muhammad Muhyidin Syaikh Syihabuddin, dan lain-lain. Tidak hanya tokoh muslim Kesultanan Palembang Darussalam pun melahirkan tokoh nasional yang turut serta memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dengan mengibarkan semangat perjuangan guna mengusir penjajah Belanda dari bumi nusantara, diantaranya adalah Sultan Mahmud Badaruddin I dan Sultan Mahmud Badaruddin II.

“ Harus diakui jika kawasan sejarah yang kini menjadi target Pemkot Palembang untuk dijadikan objek wisata tersebut adalah salah satu jejak bukti kejayaan Kesultanan Palembang Darusaslam,” ujarnya.

Dalam catatan sejarah ditulis bahwa keraton pertama yang dimiliki oleh Kesultanan Palembang Darussalam merupakan Keraton Kuto Gawang terletak di lokasi yang saat ini dijadikan Pabrik Pupuk Sriwijaya (PUSRI) akan tetapi pada tahun 1651 karena ada perselisihan dengan pihak Belanda akhirnya keraton ini diserbu dan dibumi hanguskan . Kemudian Kesultanan Palembang Darussalam kembali membuat sebuah keraton baru yang bernama Keraton Beringin Janggut terletak di tepian Sungai Tengkuruk di sekitar pasar 16 Ilir sekarang.

Lalu selanjutnya pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin I  Jayo Wikramo (1724-1758) dipindahkan ke Keraton Kuto Lama atau Keraton Kuto Tengkuruk yang didirikan pada tahun 1737 di lokasi yang sekarang menjadi lokasi Museum Sultan Mahmud Badaruddin II.  Dan kemudian pusat pemerintahan dipindahkan lagi ke lokasi baru yang sampai sekarang dikenal dengan nama Kuto Besak.

Lihat Juga :  Sukses Cukup dengan Bertauhid, ini Lima Kebiasaan yang akan Mendatangkan Pertolongan Allah

Dahulu sambung Yunus, keberadaan Keraton Kuto Lama di sisi Timur yang sekarang berdiri Museum Sultan Mahmud Badaruddin II dan Keraton Kuto Besak di sisi Barat berdampingan dengan dilindungi oleh dinding benteng yang kuat dan kokoh.

“ Sementara BKB yang kita kenal saat ini adalah keraton kesultanan yang diresmikan pemakaiannya pada hari senin tanggal 21 Februari 1797 di bangun pada masa Sultan Mahmud Badaruddin I yang diteruskan dan diselesaikan oleh anaknya Sultan Mahmud Badaruddin II.  Keberadaan BKB sendiri begitu unik karena berdiri di atas sebuah tanah yang dikelilingi oleh sungai dimana seolah-olah benteng ini berdiri atas sebuah pulau kecil. Wilayah BKB  sendiri diapit oleh sungai yang diantaranya Sungai Musi terletak dibagian depan atau selatan, Sungai Sekanak berada dibagian barat, Sungai Tengkuruk dibagian timur. Sementara Sungai Kapuran berada dibagian belakang atau bagian utara. Kawasan ini disebut dengan istilah Tanah Keraton,” terangnya.

Jika Pemkot serius dalam hal ini kata Yunus, maka kita harus dukung.. Selain mengenalkan sejarah kepada wisatawan, masyarakat juga bisa menjadikan kawasan tersebut sebagai sumber perekonomian baru. Itu artinya, akan ada lapangan pekerjaan baru dan membantu pemkot mengurangi tingkat pengangguran dan kemiskinan.

“ Sebenarnya gampang sekali untuk mengukur berhasil atau tidaknya langkah ini. Ya coba  lihat saja, minat wisatawan yang berkunjung banyak atau tidak,  tutupnya singkat.

Penulis :  Jemmy Saputera

Berita Terkait

Close