BERITA UTAMABudaya & SejarahMozaik IslamPariwisataTOPIK UTAMA

Situs Kuto Batu, Pemukiman Etnis Arab Tertua di Palembang

Masyarakat Berharap di Jadikan Objek Wisata Baru

AsSajidin.com Palembang.- Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Sumatera Selatan (Sumsel) tentang pemukiman kelompok etnis Arab di Kota Palembang pada tahun 2006, diketahui bahwa Situs Kutobatu merupakan salah satu pemukiman kelompok etnis Arab tertua yang terdapat di Kota Palembang. Hal tersebut ditunjang pula oleh Peta Kota Palembang tahun 1821 yang menggambarkan bahwa pada masa  itu terdapat pemukiman kelompok etnis Arab yang berada di sisi utara dan selatan Sungai Musi .

Data sejarah menyebutkan bahwa pada masa Kesultanan Palembang Darussalam kelompok etnis Arab memiliki keistimewaan dengan diperbolehkannya mereka untuk menetap di daratan. Catatan Komisaris Hindia Belanda JL van Sevenhoven, menyatakan bahwa pada tahun 1822 penduduk Kota Palembang selain penduduk asli juga terdapat orang-orang Cina, Arab dan orang asing lainnya.

Secara administrasi temuan struktur “tangga kuno” berada di wilayah Lorong Asia, Kelurahan Kuto Batu, Kecamatan Ilir Timur II, Kota Palembang (Peta 1). Lokasi geografis temuan berada di 2o58’56,35” LS dan 104o46’19,50” BT. Keletakan temuan berada di sisi barat Sungai Jeruju dan menghadap langsung ke Sungai Musi (Peta 2). Lokasi temuan struktur terdapat di sekitar pembangunan jembatan Musi IV yang berjarak kurang lebih 100 meter ke arah utara dari pembangunan jembatan.

Menurut Kemas Yunus penduduk setempat yang dibincangi MaklumatNews.com (AsSajidin Group)  (27/10) mengatakan , beberapa pekan lalu terlihat aktifitas masyarakat yang terdiri dari Dinas Kebudayaan, dan Balai Arkeologi Palembang melakukan penelitian di lokasi ditemukannya struktur “tangga kuno”.

“ konon katanya sih itu tangga peninggalan Kesultanan Palembang Darussalam. Sebab disana ada sebuah anak tangga yang menjuntai ke arah sungai. Letaknya pun dekat sekali dengan pengerjaan Jembatan Musi IV. Sebagai warga sekitar, saya berharap agar penemuan tangga ini mendapat perhatian khusus pihak terkait. Ya, kalua bias disini di jadikan objek wisata lah. Kan bisa menghidupi ekonomi masyarakat sekitar juga nantinya. Dan yang pasti, pelestarian situs kuto batu ini dapat tetap terjaga,” pintanya.

Lihat Juga  Sabda Rasulullah : Berbaik-baiklah dan Jangan Sakiti Tetangga

Senada dengan itu,  Kepala Dinas Kebudayaan kota Palembang Sudirman Tegoeh seperti dikutip dari BeritaPagi.co.id mengatakan, penemuan tangga kuno di Kuto Batu tersebut  saat ini sudah ditinjau dan dianalisis.

“ Kita tidak tahu kan, lokasi penemuan itu masuk wilayah pribadi atau bukan, kalau kepemilikan pribadi maka akan di lakukan pendekatan dengan pemiliknya , karena lokasi tersebut bisa dijadikan wisata baru di kota Palembang. Apalagi, kan dekat tu dengan Jembatan Musi IV, sehingga akan tampak lebih elok dipandang dari atas,” ujarnya.

Sementara itu, pemerhati Budaya Islam di Palembang Khairul Saleh, menilai jika semua  bangunan  dari peninggalan sejarah adalah bagian kehidupan masa lalu yang perlu dilestarikan. Karena dengan melestarikan, menjaga dan ikut merawatnya adalah bagian dari tanggung jawab kita Bersama. Oleh sebab itu, sejarah jangan pernah ditinggalkan. Sejarah adalah jati diri kita sebagai bagian bangsa yang besar.

Sejarah Palembang lanjutnya, sangat kental dengan nuansa Islami yang toleran terhadap semua perbedaan. Itu lah mengapa, Palembang dahulunya di sebut sebagai Venesia dari Timur. Karena sebagai daerah Maritim, Palembang mengandalkan moda transportasi air, dan itu boleh dikatakan Palembang juga sebagai pusat dermagannya perdagangan.

Lihat Juga  Wanita Haid Dilarang Potong Rambut dan Kuku?

“ Seperti yang kita tahu, di Palembang ini, hidup banyak sekali etnis keturunan. Seperti, etnis Arab, etnis Tioghua, etnis Persia, India bahkan Melayu. Dahulu, Sultan-Sultan Palembang sangat terbuka dan demokratis. Sehingga banyak para pedagang dari negeri-negeri itu tinggal hingga beranak cucu di Palembang,” ungkapnya.

Palembang sebagai negeri yang menganut ajaran Islam tentunya memiliki visi misi dakwah. Oleh sebab itu sangat wajar jika pada masa Kesultanan Palembang banyak penyebar agama Islam terutama mereka yang datang langsung dari tanah Arab, entah itu untuk keperluan dagang ataupun lain sebagainya.

“ Jadi kalau boleh disimpulkan, situs Kuto Batu adalah jejak peninggalan sejarah Islam di Palembang yang patut untuk di jaga dan dilestarikan. Ya, syukur-syukur bias menjadi objek wisata baru bagi Palembang,” terangnya.

Menyoal hal itu, Retno Purwanti Arkeolog Palembang mengatakan, hampir semua wilayah di Palembang masih banyak menyimpan situs-situs peninggalan sejarah yang belum tergali seutuhnya. Terutama untuk peninggalan situs Sriwijaya yang menyebar di wilayah Palembang.

“Situr Sriwijaya itu menyebar hampir seluruh wilayah Palembang. Memang dari masa ke masa, wilayah Palembang digenangi air dan adanya penimbunan sehingga banyak peninggalan sejarah yang belum ditemukan. Sementara untuk membedakan antara situs Sriwijaya atau Kesulatanan Palembang masih bisa terdeteksi tergantung lokasi, dan jenis temuannya apa. Kan dari situ kita bisa kroscek nanti tahunnya ,” tutupnya.

Penulis : Jemmy Saputera

 

 

 

 

 

 

Berita Terkait

Close