HeadlineInternationalJazirahMozaik IslamNasionalPolitikSyariatTOPIK UTAMAUtama

Mudzakarah 1000 Ulama: Pendirian Negara Republik Indonesia Berdasarkan Konsep Agama

Muhammad Thalib, mengemukakan bahwa tidak ada alasan untuk mengecilkan peran agama terutama Islam dalam berdirinya negara Republik Indonesia.

MUDZAKARAHMuzhakarah Akbar 1000 Ulama yang diselenggarakan Majelis Mujahidin di Tasikmalaya, Jawa Barat, memberikan catatan untuk mengikat setiap kita untuk kuat menjakanan perintah Agama yang pada dasarnya tidak berseberangan dengan falsafah negara.

 

AsSAJIDIN.COM,TASIKMALAYA – Negara Republik Indonesia didirikan berdasarkan kosep Agama. Saat jelang kemerdekaan RI ketepatan kosep agama tersebut lebih didominasi oleh Agama Islam.

Muzdakarah 1000 Ulama

Itulah kiranya yang membuat bahwa negeri ini sebenarnya didirikan berdasarkan agama bukan konsep liberal, sekuler, komunis atau demokrasi.
Tetapi konsep agama.

Hal itu diungkapkan Lajnah Tahfiziah (LT) Majelis Mujahidin, Irfan S. Awwas pada Saat Muzhakarah 1000 Ulama di Taksikmalaya, Jawa Barat, Ahad 5 Agustus 2018.

Amir Mujahidin, Al – Ustad Muhammad Thalib yang membuka Acara Muzahakarah Mujahidin itu juga sependapat dengan Irfan S Awwas.

Muhammad Thalib, mengemukakan bahwa tidak ada alasan untuk mengecilkan peran agama terutama Islam dalam berdirinya negara Republik Indonesia.

Kenapa Agama Islam yang begitu besar perannya dalam berdirinya Negara RI, ujar Muhammad Thalib, karena pada sebelum dan saat proklamasi kemerdekaan Negara Republik Indonesia, yang tampil adalah tokoh-tokoh Islam.

Coba kita lihat, katanya, yang sebelum nya ada Bung Tomo yang terus mengobarkan kalimat takbir Allohu Akbar pada setiap orasinya dihadapan Penjajah dan masyarakat serta tokoh negara pada masa itu.

Lalu ujar Irfan Awwas yang menyampaikan pidato sebelum Muhammad Thalib, bahwa dalam lembaran negara yang tercantum pertama sekali adalah Ketuhanan yang Maha Esa. Yang diyakini maksud dari para pendiri negara adalah Tuham yang Maha Kuasa itu ada Allah yang diyakini oleh Ummat Islam.

Oleh karena itu, katanya, janganlah ada niat dari kita sekarang ini untuk tidak mengakui kebenaran sejarah hanya karena ulah segegelintir orang, baik Agamawan, Negarawan dan tokoh bangsa.

Hadir pada acara ini, para Ulama Nasional, Tengku Zulkarnaen, Bachtiar Nasir , Wakil Amir Mujadinin Abu Jibril, Egi Sudjana, Ustad Umar dari Papua dan Para Ulama lainnya.

Acara Muzhakarah 1000 ulamanini mengadirkan lebih 2000 orang jamaah dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. Dari DKI Jakarta, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Pulau Jawa , Papuan dan wilayah lainnya di Indonesia.
Hadir juga Walikota Tasikmalaya, Budi Budiman.

Lebih lanjut Muhammad Tholib menyebutkan bahwa pendiri negeri ini pun dalam berbagai kesempatan di dunia International seperti juga diungkapkan Bung Karno di PBB bahwa Indonesia memiliki Pancasila yang salah satu silanya adalah Ketuhanan Yang Maha Esa.

Ustads Tengku Zulkarnaen yang ikut memberikan pandangannya pada saat itu, bahwa sudah saatnya rakyat memahami sejarah negeri ini untuk bisa memilih jalan yang benar sesuai tuntunan para tokoh pendiri Republik Indonesia.

Tujuannya agar mereka tidak terombangambing dalam mengikuti arah pembangunan masyarakat di negeri ini. Berusaha tidak terkecoh dengan adu domba oknum yang tidak berpekentingan.

Ustadz Bachtiar Nasir, dalam kesempatan ini pandangannya lebih pada upaya agar semua elemen menyatukan sikap untuk memperkokoh kesatuan pandang dalam menjalankan kepemimpinan di negeri ini.

Kesatuan Ulama sangat dirindukan oleh rakyat.

Sebelum Muzhakarah Akbar 1000 Ulama, di Jokya Irfan Awwas beberqpa waktu lalu mengatakan bahwa seluruh kader MM harus lebih responsif terhadap perkembangan sosial dan politik, sensitif terhadap prilaku mungkarat serta berani berterus terang untuk membenarkan yang benar dan menyalahkan yang salah.

“Ini hakikatnya kewajiban setiap Muslim. Dan inilah salah satu upaya kita, membantu menjaga negara dan masyarakat supaya terhindar dari rongrongan musuh Allah,” terangnya.

Selain itu, lanjut Ketua Tanfidziyah MM yang aktif menulis serta menerbitkan sejumlah karya intelektual antara lain: Sepuluh Musuh Cita-Cita Perjuangan Islam, Jejak Jihad SM Kartosuwiryo, dan yang terbaru Kesaksian Pelaku Sejarah DI/TII itu, para kader MM harus lebih aktif menjalankan misi diplomasi, bersilaturahmi kepada para penyelenggara negara di semua tingkatan. Karena kesempatan ini, juga sebagai momen dakwah secara langsung dan terbuka.

Editor : Bangun Lubis & Emil Rosmali

Berita Terkait

Close