Haji & UmrohHeadlineMozaik IslamUtama

Berebut Sejengkal Kapling di Taman Surga [Kenangan Menunaikan Haji 2011]     

assajidin.com – Saat ini jamaah calon haji Indonesia yang termasuk gelombang pertama penerbangan  musim haji 2018, tengah terus berdatangan dan tengah berada di kota Madinah Al Munawwarah. Selama 8 hari hari di kota nabi tersebut, mereka melakukan ibadah sholat arbain yakni mengerjakan sholat wajib lima waktu berjamaah di Masjid Nabawi sebanyak 40 waktu. Selain itu juga mereka melakukan ziarah ke makam junjungan Nabi Muhammad Saw yang berada di masjid tersebut, makam para syuhada Baqi, Uhud dan lainnya untukm mengisi hari-hari menjelang berangkat ke kota Makkah untuk umroh haji.

Di Masjid Nabawi ada tempat yang paling dikejar-kejar oleh para jamaah untuk bisa berada di situ yakni yang dinamakan Raudoh, taman surga.

Berikut catatan kenangan kisah ketika penulis melakukan ibadah haji 2011 silam dan beberapa kali berkesempatan beribadah di taman surga tersebut.

Sebagaimana biasa usai ba’da sholat Isya berjamaah dalam rangkaian Sholat Arbain (40 waktu) di Masjid Nabawi, para jamaah saling bercanda dan bincang-bincang santai menjelang istirahat malam. Di tengah suasana ngobrol ringan dan santai itu, seorang jamaah yang sehari-harinya dikenal sebagai pejabat di kantor Walikota Palembang tiba-tiba nyeletuk dan berseloroh :

“Yaaa……Nabi salam,” katanya berdoa sembari mengenadahkan tangannya.

“Alangkah sempitnya Raudhah ini, sehingga aku agak sulit memasukinya, tolong ya…Nabi…makmano kalu dilebarke lagi, supayo lemak,” ucap sang pejabat ini berhajat kepada nabi dengan bahasa Palembang.

Lalu pejabat yang memang senang bersenda gurau dengan rombongan jamaah  haji tahun 2011 silam ini, bercerita kepada jamaah lainnya bahwa mengaku dirinya sendiri tidak sengaja tiba-tiba kakinya telah menginjak karpet Raudhah (Riyadhul Jannah), setelah sekian lama berdiri, berdesak-desak dan saling dorong antar jamaah.

“Bapak dari  Indonesia…ya…,” tegur seorang jamaah kepada pejabat ini.

“Ya…Pakcik,”jawabnya singkat.

“Alhamdullillah….kita sudah sampai di Raudhah,” jamaah asal Malaysia ini menjelaskan.

“Oh…ya…..,” ujar pejabat ini sedikit kaget, heran dan bersyukur.

Akhirnya  obrolan ringan tersebut membincangkan seputar ragam cerita dan kisah-kisah pengalaman suka duka jamaah untuk menggapai Raudhah guna beribadah dan memanjatkan doa di taman surga tersebut.

Namanya juga taman surga, tentu Raudhah yang terletak diantara kamar Nabi Muhammad SAW (sekarang makam) dan mimbar untuk berdakwah, tidak pernah sepi pengunjung. Nyaris tak sedetikpun kapling taman surga itu kelihatan kosong. Ribuan ribu jamaah—apalagi di musim haji—rela antri untuk menunggu giliran meloloskan diri barang sejenakpun “menguasai” kapling di taman surga yang hanya seluas 22 meter x 15 meter tersebut.

Dapat dibayangkan bagaimana “perjuangan” duyufurrrahman (tamu-tamu Allah) merebut sejengkal kapling di taman surga itu. Mereka sangat rindu dengan sabda Nabi Muhammad SAW yang mashyur yakni : “Antara rumahku dengan mimbarku adalah Raudhah diantara taman-taman surga’” (HR Bukhari). Tafsir hadistnya menyebutkan taman surga ini merupakan tempat Allah SWT ”mengobral” rahmat kepada orang-orang yang berdoa dan berzikir, membaca Al Qur’an dan sholat di sini.

Raudhah memang istimewa dan memiliki fadhilat berlipat ganda. Semua doa pengunjung di-ijabah Allah SWT, makmul dan mustajab adanya. Oleh sebab itu, rasanya sangat rugi bila berziarah dan sholat berjamaah di Masjid Nabawi, tak sekalipun sempat beriktikaf di Raudhah.

Melihat fenomena membludaknya antrean jamaah haji yang hendak menuju area yang dikelilingi pilar-pilar putih berukiran khas dan dikarpeti hijau keputih-putihan tersebut, memang rasanya mana mungkin bisa menerobos masuk ke taman surga tersebut. Apalagi bila melihat tubuh-tubuh besar, para ikhwan dari keturunan sahabat Bilal bin Rabah Ra ini, timbul perasaan takut, khawatir terjepit mulai mendebarkan jantung. Tapi perasaan was-was dan maju mundur itu, itu berangsur-angsur sirna dan dapat dikalahkan,  bilamana  kita membandingkan betapa pedihya perjuangan para mujahid dan syuhada suadara muslim yang berperang di Afganistan, Palestina dan belahan dunia lainnya. Jadi perjuangan ke raudhah belum sebanding dengan elan jihad tersebut.

Berebut kapling di taman surga menjadi pemandangan sehari-hari di area Raudhah. Ratusan hektar kapling tanah yang dimiliki di tanah air, rasanya tak ada harganya sama sekali bila dibandingkan perjuangan “menduduki” sejengkal kapling di lahan mulia diantara mimbar dan rumah Nabi Muhammad SAW tersebut.

Tapi subhanallah dan masya Allah, meskipun berdesak-desakan, saling dorong, berhimpit-himpitan, bahkan sering juga muncul sikap arogan, namun kalau sudah niat kuat terpatri di hati bahwa harus ke Raudhah, semuanya bisa dan mampu mencapai dan menduduki kapling yang lebarnya tidak sampai satu sajadah tersebut. Betapa tidak, orang yang sudah berada di taman surga tersebut, nyaris tak bisa leluasa sholat, apalagi tuma’nina, tubuh terhimpit kiri-kanan orang, sujud terkadang di pantat, mencium telapak kaki. Tapi bila jamaah yang sudah berhasil bersimpuh di Raudhah, semua pengalaman tadi, hilang sirna, seolah tak pernah terjadi apa-apa. Allahu Akbar.

Lantas jamaah mulai sibuk sendiri dalam kesyahduhan, takzim ibadah, takbir, tahlil, zikir, baca Al Qur’an bertimpalan dengan suara rintihan tangis yang tak terasa membasahi muka. Entah apa yang membuat ini semua? Tapi yang jelas, tatkala kita memanjatkan doa-doa, terbayang di lintasan pikiran kita bahwa kita seakan-akan berdoa bersama-sama junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, yang tengah “berbaring” di makamnya di balik pagar hijau Raudhah tersebut. Juga “ikut” mendampingi sahabat Rasulullah Abubakar Asshidiq ra dan Umar Bin Khatab ra.

“Ya….Nabi salammu’alaika, ya….Rasul salammu’alaika…Aku yang datang dari kampung nun jauh di sana, yang selama ini selalu menyebut namamu dalam sholat, kini aku berada di sampingmu ya…Rasul, doa-doaku sudah kepanjatkan kepada Allah, semoga ya…Rasul, Allah mengabulkannya, amin,” untaian doa itu tak terdengar jelas, berbisik, yang ada sesunggukan kata-kata yang keluar dari mulut yang sudah basah dengan airmata.

Walaupun berdoa dan beriktikaf  di sejengkal kapling  taman surga, rasanya puas sudah dan tak ternilai harganya dengan beribu-ribu doa yang dipanjatkan diatas lahan ribuan hektar kapling tanah yang ada di tanah air.

Ternyata berebut sejengkal kapling di taman surga tidak sia-sia. Dan itu memang harus menjadi target setiap penziarah di Masjid Nabawi, Madina Al Munawarah. Raudhah perlu kesabaran ekstra dan nawaitu yang lurus dan harus memiliki tepo seliro, saling berbagi. Bila kita rasa sudah cukup lama di taman surga tersebut, cobalah beranjak, berikan kesempatan kepada jamaah yang masih berdiri untuk menggantikan posisi kita. Sebab kalau kita berbagi, maka kita akan mendapatkan hal yang sama pada kesempatan lainnya. Bukankah kita juga tidak ingin sendirian di taman surga tersebut, Nabi Adam As juga perlu ibunda Hawa di surga yang sebenarnya.

Dan kalau memang mau berlama-lama di Raudhah, kita harus datang sedini mungkin, sekira pukul dua dinihari. Suasana masjid masih belum begitu ramai, tapi di Raudhah tetap saja membludak, namun tak seramai di siang hari. Kita bisa merangsek pelan-pelan ke tengah dan ambillah posisi di dekat rak lemari Al Qur’an di shaf pertama sudut kiri menghadap kiblat, persis dekat pagar makam Nabi Muhammad SAW, yang ada petugas asykar duduk, sebab daerah itu jarang dilalui jamaah, sehingga kecil kemungkinan di desak-desak orang. Di area ini, kita bisa puas melakukan ibadah seperti sholat tahajud, hajat, zikir, qiro’ah Qur’an, berdoa dan lain-lain ibadah hingga azan Subuh berkumandang lantas sholat.

Kembali kepada celotehan pejabat tadi, itu hanyalah bumbu-bumbu pergaulan untuk mengakrabkan sesama jamaah haji. Tapi yang jelas pejabat tadi  sebenarnya ingin sekali berlama-lama di taman surga tersebut. Dia rindu. Tingkah laku di tanah suci tersebut, sangat tergantung dengan niat tulus jamaah ditambah dengan amal soleh yang dilakukan selama ini. Catatan yang paling penting adalah bila di tanah suci kita berebut kapling di taman surga, tapi sepulang dari situ kita jangan sekali-kali merebut kapling tetangga di kampung, yang mungkin menjadi kebiasaan buruk kita selama ini. auzubillah minzalik.

Pesona dan magnet Raudhah memang tak bisa dihapus dari ingatan. Seorang teman yang berulang kali melanglang buana ke seantero dunia, dia mengatakan setelah berkunjung ke Mekkah Al Mukaromah dan Madina Al Munawarah, hanya dua kota inilah yang terus menerus menarik nafsunya untuk dikunjungi berkali-kali. Subahanallah. Rasanya setelah menunaikan ibadah haji dan bersimpuh di Raudhah, hanya kepada Allah-lah kita patut bersyukur. “Maka nikmat apalagi yang kamu ingkari”, Fabiayya Alairobbikuma tukazziban.[]ASPANI YASLAND

Berita Terkait

Close