Uncategorized

Hikmah Ramadhan: Berpuasalah Seperti Ulat Jangan Seperti Ular

AsSAJIDIN.COM — Marhaban ya Ramadhan Puasa Ramadhan, Alhamdulillah kita dipertemukan lagi dengan bulan Ramadhan, bulan penuh rahmat di mana didalamnya diwajibkan umat muslim untuk berpuasa.

Kewajiban berpuasa disebutkan secara jelas dalam Al Quran Surat Al Baqarah:
“Bulan Ramadhan adalah bulan bulan diturunkannya Al Qur’an. Al Quran adalah petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)” (QS. Al Baqarah: 185).

Secara hukum disebut pula sunnatullah. Di bulan Ramadhan, tidak hanya manusia yang berpuasa, dipastikan seluruh mahkluk Allah ikut pula berpuasa. Namun ada fenomena alam yang sudah menjadi hukum alam secara alamiah akan dapat kita lihat dari proses berpuasa hewan yang menjalani hidup secara alamiah.

Contohnya kupu-kupu yang menjalani metamorfosis dari seekor ulat dan ada pula seekor ular yang berpuasa karena hendak mengganti kulit.

Nah, dari puasa kedua hewan inilah kita bisa mendapatkan hikmah berpuasa sebagai seorang mukmin. Ada semacam pengistilahan mau puasa seperti apakah kita sebagai seorang mukmin dan muslim?
Yuk kita ikuti, hikmah Ramadhan kali ini,  proses puasanya Ulat dan Ular dengan tujuan, tentu saja ingin berubah lebih baik lagi.

A. Puasa Ular
Seekor Ular akan menjalani sunnatullah, sebagai mahkluk hidup, di mana selalu berganti kulit dalam setiap kurun waktu tertentu. Kulit yang sudah tua harus diganti dengan kulit yang lebih mudah.
Ganti kulit seekor ular tidak lah mudah. Dia harus menjalani proses berat, yakni melakukan puasa tanpa makan dan minum.
Dia akan menjalani proses berat dan betul-betul harus dijalani dengan sempurna, jika salah maka si ular akan menemui ajalnya.
Maka setelah sampai batas waktu, siular dapat mengganti kulitnya jauh lebih muda dan indah.
Namun, di sini bukan soal proses ganti kulit yang kita lihat, tetapi pasca ganti kulit. Maka ada beberapa hal yang perlu kita simak dan ambil inti sarinya, setelah si ular menjalani puasa dalam waktu yang cukup lama.

1. Meski sudah ganti kulit dan menjalani puasa yang lama, ternyata bentuk dan wajah serta badannya tidak ada perubahan, pasca puasa tetaplah sama. Hanya mungkin tubuhnya dari segi ukuran dan panjangnya yang berubah, namun bentuknya tidak berubah.

2. Namanya, ya tetaplah ular baik sebelum dan sesudah puasa tetap sama, dia tetap disebut sebagai ular, bukan kupu-kupu atau ayam misalnya, atau naga.

Lihat Juga :  Ujung Oppa yang Sangat Cinta Indonesia, Mualaf dan Ingin Umroh

3. Bagaimana setelah puasa dan berhasil? makanan si ular baik sebelum dan sesudah puasa tetap sama. Itu-itu saja.

4. Cara bergeraknya tetap sama, tetap agresif dan membunuh untuk memangsa hewan lainnya.

5. Lantas bagaimana sifatnya apakah akan berubah? tidak nalurinya adalah hewan pemangsa binatang yang lebih kecil. Jadi makanannya tetap sama.

B.Puasa Ulat

Lantas, apa bedanya dengan ulat, apakah ada perbedaannya, sehingga ada istilah, seorang mukmin yang berpuasa kerap disamakan seperti Ulat?
Baiklah, kita lihat secara seksama dan jelas, bahwa ulat termasuk hewan paling rakus makannya. Sebab sejak menjadi ulat, dia menghabiskan waktu saja untuk makan.
Setelah masa makannya habis, dia seperti bosan memakan makanannya dia kemudian berpuasanya.
Dia kemudian mengasingkan diri dan membungkis dirinya dengan kepompong, sehingga tak mungkin lagi dia melampiaskan hawa nafsu makannya.
Setelah berminggu-minggu puasa, maka keluarlah dari kokon seekor makhluk baru yang sangat indah bernama KUPU-KUPU.
Lantas apa yang kita dapatkan dari puasanya seekor ulat?
1. Bentuk dan wajah si ulat sesudah puasa berubah, dari si ulat yag buruk rupa menjadi kupu-kupu yang memesona.
2. Lantas namanya pun berubah, dia dipanggil kupu-kupu.
3. Selanjutnya makanananya bagaimana? si ulat yang sebelumnya sangat rakus memaan daun-daunan, bahkan kerap tumbuh-tumbuhan itu mati, tetapi setelah menjadi kupu-kupu, dia hanya memakan madu, makanan yang sangat bersih dan penuh dengan nutrisi. Dia pun bukan lagi sebagai makluk perusak tanaman.
4. Lantas bagaimana gerak-geriknya? jika ulat gerakannya menjalar dan merayap sehingga kerap menjijukkan, maka setelah menjadi kupu-kupu, dia terbang dengan indah, sangat anggun, berada di atas udara bergerak dari pohon ke pohon dengan anggunnya.
5. Bagaimana sifatnya, jika menjadi ulat dia memakan daun pada tumbuh-tumbuhannya tempatnya menumbang bahkan bisa merusak dan membunuh tumbuhan tersebut. Setelah menjadi kupu-kupu dia menjadi sosok makhluk yang dinantikan tumbuhan-tumbuhan yang tengah berungah, karena dia membantu penyerbukan bunga tersebut untuk menjadi buah.
Masya Allah sungguh sangat luar biasa.
Nah dari sinilah bisa kita ambil kesimpulan bahwa:
Puasa Ulat lah yang sangat sempurna.
Seorang muslim yang berpuasa akan menjadi lebih baik lagi, baik itu sifat, tabiat dan gerak-geriknya yang selalu mendatangkan manfaat.
Hal disebutkan dalam Al quran:
“Bulan Ramadhan adalah bulan bulan diturunkannya Al Qur’an. Al Quran adalah petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)” (QS. Al Baqarah: 185)
Sebagai Makluk Allah, kita akan menjadi manusia utuh setelah menjalani puasa.
Yakni, menjalankan perintahnya untuk lebih baik lagi sebagai umat Islam sholat 5 waktu di Masjid (bagi laki2), membaca Al-Qur’an dan memahami isinya. Lebih sayang kepada orang tua, istiri, anak-anak saudara seiman. Suka menolong orang lain, dan menjauhi larangan-larangan Allah.
Wajib Puasa
Maka itu diwajibkan anda sekalian untuk berpuasa, sebagaimana diserukan dalam surat Al Baqaraoh ayat 183.
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183)
Dari lafadz ini diketahui bahwa ayat ini madaniyyah atau diturunkan di Madinah (setelah hijrah, pen), sedangkan yang diawali dengan yaa ayyuhan naas, atau yaa bani adam, adalah ayat makkiyyah atau diturunkan di Makka.
Imam Ath Thabari menyatakan bahwa maksud ayat ini adalah : “Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, membenarkan keduanya dan mengikrarkan keimanan kepada keduanya”
Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini: “Firman Allah Ta’ala ini ditujukan kepada orang-orang yang beriman dari umat manusia dan ini merupakan perintah untuk melaksanakan ibadah puasa”
Dari ayat ini kita melihat dengan jelas adanya kaitan antara puasa dengan keimanan seseorang. Allah Ta’ala memerintahkan puasa kepada orang-orang yang memiliki iman, dengan demikian Allah Ta’ala pun hanya menerima puasa dari jiwa-jiwa yang terdapat iman di dalamnya. Dan puasa juga merupakan tanda kesempurnaan keimanan seseorang.
Lalu, apakah iman itu?
Iman secara bahasa artinya percaya atau membenarkan. Sebagaimana dalam ayat Al Qur’an:
“Dan kamu sekali-kali tidak akan percaya kepada kami, sekalipun kami adalah orang-orang yang benar” (QS. Yusuf: 17)
Secara gamblang Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menjelaskan makna iman dalam sebuah hadits:
Demikianlah enam poin yang harus dimiliki oleh orang yang mengaku beriman. Maka orang enggan mempersembahkan ibadah kepada Allah semata, atau menyembah sesembahan lain selain Allah, perlu dipertanyakan kesempurnaan imannya. Orang yang enggan mengimana Muhammad adalah Rasulullah atau meninggalkan sunnahnya, mengada-adakan ibadah yang tidak beliau tuntunkan, perlu dipertanyakan kesempurnaan imannya. Orang yang tidak percaya adanya Malaikat, tidak percaya datangnya kiamat, tidak percaya takdir, perlu dipertanyakan kesempurnaan imannya.(*/sumber: sripoku.com)

Back to top button