HeadlineLifestyleNasional

Sembako Naik Jelang Ramadhan, ini yang Mestinya Dilakukan Pemerintah dan Umat Muslim

AsSAJIDIN.COM —  Harga  sembilan bahan pokok (sembako) mulai merangkak naik menjelang Ramadhan 2018. Bukan hari-hari ini saja, untuk beberapa jenis kebutuhan pokok, kenaikan harga sudah berlangsung sejak lama, seperti telur, ayam dll. Diprediksi kenaikan sembako ini akan meningkat hingga memasuki masa Lebaran.

Salah satu yang paling menonjol adalah kenaikan harga ayam. Di Palembang kini harganya mencapai Rp 40 ribu per kg, padahal jauh sebelumnya harga normal ayam paling banter di harga Rp 26 ribu. Di luar Palembang seperti di kabupaten kota, harga ayam bertambah mahal mencapai Rp 42 ribu per kg.
Sahabat ayam, yakni telur ayam pun demikian. Harga telur ini juga stabil kenaikannya sejak awal tahun lalu tak pernah lagi di bawah Rp 20 ribu per kg. Saat ini di pasar tradisonal harga telur ayam rata-rata dijual Rp 22.500 per kg.

Realitas naiknya harga kebutuhan pokok menjelang dan selama masa puasa seakan menjadi sebuah tradisi. Dari tradisi ini lahirlah tradisi lain seperti mengeluh. Umumnya kaum ibu-lah yang sering bersentuhan dengan tradisi keluhan ini. Kenapa kejadian kenaikan harga barang ini selalu terulang lagi? Apa berarti selama ini tidak ada penanganannya?

Sebenarnya realitas kenaikan harga barang di bulan ramadan ini bisa dijelaskan dengan hukum ekonomi. Dalam hukum ekonomi (pasar), dimana persediaan barang sedikit dan permintaan akan barang itu banyak, maka dengan sendirinya harga barang itu akan naik.

Jadi, kenaikan itu merupakan suatu keharusan, sebagaimana yang telah diuraikan dalam hukum ekonomi. Akan tetapi, haruskah kita menyerah pada hukum tersebut, atau bisakah diatur sedemikian rupa sehingga pada masa puasa ini harga barang tidak naik? Tentu saja bisa dan seharusnya bisa.

Untuk mengendalikan harga pasar, tentulah dengan cara mengendalikan kedua unsur tadi. Pertama, persediaan barang harus ditingkatkan jumlahnya. Bulan ramadan sebenarnya bukan hanya sekali dua kali saja terjadi, melainkan berkali-kali. Setiap tahun pasti orang mengalaminya. Karena itu, seharusnya sudah bisa diprediksikan berapa kebutuhan akan barang tertentu. Misalnya, kalau setiap ramadhan kebutuhan akan telur sekitar 3000, maka menjelang ramadhan harus sudah disediakan 3000-4000 butir telur.

Kedua, soal kebutuhan akan barang. Karena kebutuhan ini melekat pada manusia, maka yang perlu dikendalikan adalah manusianya. Apa yang harus dikendalikan dari manusianya? Masing-masing orang hendaknya mengendalikan hawa nafsunya untuk membeli barang dalam jumlah sangat banyak. Sebenarnya saat puasa adalah momen yang sangat tepat. Inti dari puasa adalah pengendalian hawa nafsu, bukan keserakahan yang terlihat dari naiknya porsi makanan.

Orang selalu heran, kenapa di saat ramadan (bulan puasa) orang justru makan lebih banyak daripada biasanya. Bukankah puasa itu mengajak orang untuk menahan diri? Bukankah pada saat puasa orang hanya makan dua kali sehari? Jadi, logikanya, di bulan ramadhan ini harga barang tidak harus naik.

Dengan adanya pengendalian dua unsur ini, tentulah kejadian naiknya harga barang menjelang dan sepanjang ramadan tidak akan terjadi lagi. Ramadhan atau bukan kebutuhan orang akan barang tetaplah sama saja. Malah seharusnya di saat Ramadhan kebutuhan akan barang mesti turun,karena orang makan cuma 2 kali sehari (pagi dan malam).

Semua ini bisa terjadi jika ada kemauan politik dari unsur-unsur yang berkaitan dengan kenaikan harga tadi. Semoga Ramadhan kali ini, pemerintah lebih bisa mengatur stabilitas harga dan umat muslimnya bisa lebih menerapkan hakikat puasa, yakni menahan hawa nafsu.(*)

Tags

Berita Terkait

Close