Uncategorized

Membaguskan Masjid dengan Kaligrafi, Bagaimana Hukumnya?

AsSAJIDIN.COM — Masjid merupakan tempat yang mulia bagi umat Islam. Di rumah Allah (baitullah), para Muslim melaksanakan ibadahnya berupa sholat wajib lima waktu.

Tak hanya itu, masjid juga berfungsi sebagai tempat pendidikan. Sejumlah pengajian, belajar membaca Alquran dan ilmu agama, kerap diselenggarakan pengelola masjid.

Sebagai tempat ibadah, tentu masjid harus dalam keadaan bersih dan suci. Hal ini demi menjaga kekhusyukan suasana ibadah.

Tetapi, bagaimana jika para pengurus ingin menghias masjid dengan kaligrafi?

Dikutip dari laman tarjih.or.id, merupakan etika di rumah Allah menulis kaligrafi berupa ayat suci di dinding maupun jendela masjid. Juga menggunakan media tertentu seperti kayu, kaca, atau sejenisnya kemudian ditempel di dinding masjid.

Lihat Juga :  Aries Susanti, SpiderWoman Berhijab Indonesia Pecahkan Rekor Dunia di Bawah 7 Detik Panjat Dinding

Para ulama menyatakan hal ini mubah (boleh) dilakukan. Bahkan jika menuliskan ayat dengan tujuan memotivasi agar jemaah semakin rajin beribadah, atau agar masjid menjadi indah, hukumnya sangat dibolehkan.

Sedangkan kaligrafi baik berisi ayat maupun hadis merupakan salah satu bentuk mengabadikan lafal Alquran serta Sunah Rasulullah Muhammad SAW. Amalan semacam ini pun dilakukan oleh para sahabat Nabi SAW, yaitu ketika menuliskan ayat-ayat Alquran, seperti tertera dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim.

Telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Umar, telah menceritakan kepada kami Hammam, telah menceritakan kepada kami Qatadah, (ia) berkata, ” Saya telah bertanya kepada Anas bin Malik RA, siapakah orang yang telah mengumpulkan Alquran pada masa Nabi SAW?” Anas menjawab, ” Ada empat orang seluruhnya dari kaum Anshor, yaitu Ubai bin Ka’ab, Muaz bin Jabal, Zaid bin Tsabit dan Abu Zaid.”

Lihat Juga :  Pendidikan Anak dalam Keluarga Era Covid-19

Hadis di atas menandakan bahwa penulisan Alquran boleh dilakukan. Kala itu, media yang digunakan adalah kulit hewan yang telah disamak dan tulang hewan yang halal dimakan.

Meski demikian, para pengurus masjid harus memperhatikan aspek kehalalan dari kaligrafi, misalnya menggunakan cat serta kuas berbahan halal. Ini mengingat yang ditulis di dinding masjid adalah kalimat berisi asma Allah.(*/sumber:tarjih.co.id)

Back to top button