BERITA TERKINIINTERNATIONALMOZAIK ISLAM

Perang Akhir Zaman Melawan Zionis Yahudi

ASSAJIDIN.com – Dunia guncang begitu Trump menandatangani pengakuan atas Yerussalem sebagai ibu kota Israel. Sekalipun dunia Eropa adalah sekutu Amerika dan Israel, namun masih menunjukkan sikap ketidaksepakatannya terhadap keputusan Trump yang dinilai akan membuat marah masyarakat dunia itu.

Israel yang memiliki kebangsaan Yahudi memang penuh teka-teki bagi mereka yang tidak tahu. Namun bagi umat Islam mereka telah disebutkan dalam firman Allah pada Al Qura’an sebagai bangsa pembangkang. “Bangsa ini hanya ingin mengedepankan pemikiran sendiri, dan sangat menganggu masyarakat dunia. Pembangkang dan jahat,”ujar *DR. Adrian Saptawan, M.Si,* Pakar Politik Universitas Sriwijaya (Unsri) ketika berbincang dengan AsSAJIDIN, kemarin.

Dia pun mengurai sekilas sejahar Israel tersebut. Sebelum berdirinya Israel, cukup sulit membayangkan bagaimana skenario perang akhir zaman akan berlangsung antara umat Islam dengan Yahudi. Betapa tidak, selama dua ribu tahun, orang Yahudi tersebar di banyak tempat. Mereka menjadi kaum yang tak punya ‘rumah’, dan menumpang dari belas kasihan umat lain, terutama umat Islam dan Kristiani.

Dari sisi politik, agama Yahudi pun tak disokong kekuatan besar, seperti halnya Islam dan Kristen. Pendek kata, kaum ini tidaklah diperhitungkan. Tapi, di penghujung 1800-an, sejarah berjalan cepat.

*Gerakan Zionis*

Sebuah gerakan bernama Zionisme, muncul ke permukaan sejarah, dan merancang pendirian sebuah rumah bagi kaum Yahudi. Tapi, bukan ke sebuah lahan kosong, melainkan ke Darussalam atau Yerusalem, tanah damai tiga agama, yang saat itu masih berada di bawah Khilafah Ustmaniyah.

Sejak 1882 gerakan Zionis ini berulang kali memobilisasi kaum Yahudi dari berbagai negara, terutama Eropa, untuk kembali ke Yerusalem, dan mengklaimnya sebagai milik mereka. Lewat Deklarasi Balfour, Inggris pun berjanji mem bantu pendirian negara Yahudi itu.  Inggris kemudian mengalahkan tentara Khilafah Ustmani, dan memasuki Tanah Suci pada 1917. Pada 14 Mei 1948, negara Yahudi pun diproklamasikan oleh David ben Gurion, yang kemudian menjadi perdana menteri pertama Israel. Negeri yang baru berdiri itu, dengan segera unjuk gigi.

Lihat Juga :  Jangan Biarkan Perilaku Keberislaman Kita Jadi Rusak

Dan, fakta itu pun mengonfirmasi takdir akhir zaman yang disampaikan Nabi Muhammad SAW dalam sejumlah hadisnya, bahwa Muslim akan berperang menghadapi Yahudi. Messiah Israel memang bukan ‘negara’ biasa. Dia merupakan sebuah pertanda, terutama bagi penganut Islam, Kristen, dan Yahudi. Seperti ditulis pakar eskatologi Islam, Imran Hosein, dalam bukunya, Jerusalem in the Qur’an, Yahudi meyakini restorasi Israel —setelah dua ribu tahun Kerajaan Israel dihancurkan— merupakan satu dari tujuh tanda kehadiran Mahsiah, atau Moshiah, atau Mashiach, atau Moshiach.  Itu adalah bahasa Ibrani dari al-Masih atau Messiah. Tapi, al-Masih yang mereka tunggu bukanlah kedatangan Nabi Isa al-Masih, sebagaimana keyakinan Islam dan Kristen. Mereka menunggu Messiah yang lain. Meski sedang berlangsung, restorasi Israel tersebut belumlah sempurna.

*Penjajah*

Yang dimaksud restorasi Israel bukanlah sekadar pendirian negara Israel, tapi juga negara dengan luas seperti pada era Nabi Daud, yang merupakan era keemasan Bani Israil. Bahkan, gerakan Zionis saat ini menambahkannya dengan gagasan Israel Raya (Eretz Yisrael), yang membentang dari Delta Nil (yang kini masih dikuasai Mesir) hingga ke Sungai Eufrat (yang kini masih dikuasai oleh Irak), seperti yang tertulis di Kitab Genesis, bahkan lebih luas lagi.

Tanda kedua, dari kehadiran Messiah versi Yahudi, ini, adalah kembalinya orang-orang Yahudi yang semula terpencar (diaspora) ke Tanah Suci (Yerusalem). Tanda kedua ini telah lama ber langsung, dan masih berlangsung sampai saat ini. Terus mengalirnya orang-orang Yahudi dari berbagai penjuru dunia ke Israel, membutuhkan tempat tinggal. Dan, persoalan inilah yang sampai saat ini terus menerus memicu persoalan, karena Israel terus membangun permukiman baru dan mengusir orang Arab.

Lihat Juga :  Anies Peluk Erat Sandiaga, Tepuk Punggung Sandiaga 12 Kali

Apakah Israel merupakan bangsa yang kecil secara kuantitas? Ini lagi-lagi anggapan keliru. Tahukah Anda jika setiap orang yang berdarah Yahudi di seluruh muka bumi ini sesungguhnya memiliki kewarganegaraan ganda, alias memiliki dua kebangsaan: Yang pertama dia tercatat sebagai warganegara Israel, dan yang kedua, dia warganegara di tanah tempat dia tinggal. Jadi, warganegara Israel adalah sama dengan jumlah populasi kaum Yahudi di seluruh dunia ini.

Dan sudah bukan rahasia lagi jika ada istilah “Israel adalah Amerika kecil, dan Amerika (Serikat) adalah Israel besar”. Sejarah telah membuktikan selama berabad-abad jika AS selalu menjadi anjing penjaga yang paling setia bagi semua kepentingan Israel, bukan sebaliknya. Zionis-Israel memiliki pengaruh yang sangat dominan dalam hubungannya dengan AS

Selama berabad-abad Amerika Serikat dan Zionis-Israel telah bersatu, bekerjasama dalam kemungkaran dan kezaliman, dibantu dengan sejumlah negara Eropa yang juga merupakan “Israel besar yang malu-malu” seperti Inggris dan Perancis. Jelas, mereka dengan mudah bisa menjalankan agendanya menguasai dunia.

Dunia Islam harus bersatu bila ingin melawan Israel yang begitu kuat atas dukungan sekutunya. Paling tidak sejumlah ulama mengatakan”Boikot Produk Israel.” Terbaranlah kehalalaln dalam semua produk umat.(*)

Oleh: Bangun Lubis

 

 

 

 

 

 

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close