HeadlineKeluargaUtama

Mari Bermain Bersama Anak

Bismillahirrahmaanirrahim. Rasul saw adalah contoh suri tauladan kita dalam setiap urusan kehidupan, termasuk dalam hal mendidik dan berinteraksi dengan anak anak .

Suatu kali beliau bertemu dengan sekelompok anak yang sedang bermain semacam jual beli dengan sesama. Saat melintasi mereka, beliau lantas berdoa dengan tulus: “ Semoga Allah memberkahi daganganmu “ . Lihatlah, meski hanya permainan, tapi Rasul saw benar benar mendoakan aktivitas anak – anak, karena memang dunia anak adalah dunia belajar sambal bermain, bermain sambal belajar.

Filosofi semacam ini harus dipahami oleh para orang tua dan pendidik pada umumnya.

Memposisikan anak sesuai dengan kondisi perkembangan perilakunya. Memperhatikan kebutuhan dan kecenderungan minat keahliannya. Mencermati perilaku keseharian dan perubahan kecil yang mungkin terjadi. Ini semua penting, agar orang tua bisa mengambil sikap yang tepat , baik cara ataupun waktunya, jika ada hal hal kurang menyenangkan yang terjadi pada anak.

Mendekatkan diri kepada anak dengan cara bermain bersamanya sesuai usia anak, adalah salah satu cara yang cukup efektif.

Misalnya ajak anak kita yang masih usia TK atau kelas 1 SD untuk bersama bermain congklak dengan santai, asyik memindahkan mata batu congklak dari lubang satu ke lubang lainnya, demikian dilakukan secara akrab dan menyenangkan. Kesempatan ini bisa digunakan oleh orang tua untuk berbincang segala hal dengan anak, menanyakan teman temannya di sekolah, siapa temannya yang paling dia suka, menanyakan pendapat anak tentang makanan yang disukainya, meminta pendapat anak tentang sikap kita sebagai orang tua, apa yang dia suka dan apa yang tidak dia suka, termasuk mengecek kesehatannya, mengasah keterampilannya dalam berhitung melalui biji congklak, memastikan dan menuntun akan kejujuran sikap , serta sportifitas dan kesiapan mental untuk menang dan kalah. Ini semua sangat penting bagi kehidupan, bagi pembentukan sikap dan perilaku anak di masa depan, dan membuat hubungan dan komunikasi yang harmonis antara orang tua dengan anak.

Di tengah maraknya jenis permainan dan game online yang cenderung membuat anak menjadi individualis, kita perlu menata ulang interaksi dengan anak, memperkenalkan kembali permainan permainan tradisional yang membentuk sikap mampu bersosialisasi dengan baik. Hal ini bukan berarti anak tidak boleh sama sekali berinteraksi dengan dunia online, tapi orang tua perlu bijak cermat memberikan permainan pada anak.

Orang tua tidak boleh meremehkan kesempatan bermain bersama anak.

Manfaatkan waktu kebersamaan dengan anak untuk mendekatkan hubungan dan menjalin komunikasi efektif dengannya, Jadikan hari hari anak adalah hari-hari yang penuh makna. Belajar dari kehidupan, belajar dari pengalaman, belajar dari keteladanan orang tua dan orang dewasa di sekitarnya, belajar dari kegagalan dan kesusksesan, belajar memaknai semua yang terjadi dalam kehidupan dirinya, dan kehidupan orang orang di sekitarnya.

Kemampuan mengambil pelajaran dan hikmah dari setiap hal, inilah salah satu yang harus kita ajarkan kepada anak anak kita. Rabbana Hablanaa min azwaajina wa dzurriyaatinaa qurrota a’yun waj’alanaa lilmuttaqiina imaama. Aamin. Wallahu a’lam bishowwab. (dakwatuna.com/hdn)

 

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close