BERITA TERKINIKELUARGAMOZAIK ISLAMPENDIDIKAN

Dengarkanlah Orang Bicara

Oleh: H. Emil Rosmali

Pemimpin Umum AsSAJIDIN.com

AsSAJIDIN.Com – Ketika seorang sahabat bernama Muhammad Al Buna datang  memenuhi undangan musyawarah di kabilah mereka, maka ia pun memberikan masukan untuk memajukan kampong mereka terutama soal peribadahan.

Namun sahabat bernama Abdul Malait bin Yasalih, selalu berusaha menelikung pendangan – pandangan Al Buna. Tadinya musyawarah begitu bersahabat dan tenang, apalagi yang dibicarakan adalah peribadahan yang sering disampaikan oleh Rasulullah SAW, tentulah demi kepentingan umum. Bukan pribadi Al Buna.

Ketika Al Buna bilang bahwa kajian setiap pekan itu dirasakan kurang karena begitu banyaknya hadis yang akan disampaikan, namun Abdul Malait selalu mengelak dan memandang pendapat Al Buna berlebihan.

Lihat Juga :  Rumah Zakat Kirim 30 Ton Paket Superqurban dan 15 Truk Bantuan Logistik untuk Palu-Donggala, Yuk Terus Berinfak

“Orang kampung ini masih harus mencari nafkah, sehingga hendaklah kalaupun ada kajian cukup sekali dalam dua pekan saja,”ujar Abdul Malait. Sebagian orang yang hadir tentu mengernyitkan keningnya karena dua kali sepekan untuk kajian, terlalu sedikit.

Abdul Malait, padahal adalah seorang ulama yang cerdas, namun belakngan ini terkesan dirinya tidak kompromistis dan kurang mau menerima pandangan orang lain. Begitulah seterusnya bila ada pandangan yang dia tidak suka, secara sepontan selalu ditolak dengan berbagai alas an.

Bahkan seringkali Abdul Malait membuat pandangan yang tak lazim dalam musyawarah kampong itu. Mendengar hal seperti ini sebenarnya para sahabat di luar sudah bertanya-tanya, kenapa nian Abdul Malait belakangan ini, ingin beda tetapi perbedaannya selalu tidak masuk akal dalam pandangan kebiasaan dan umum.

Lihat Juga :  Memaknai Kemerdekaan dengan Rasa Syukur

Akhirnya, para sabahat dan ulama kampong, pada musyawaran yang berlangsung belakangan ini, selalu menghindar dari keberadaan Abdul Malait hadir dalam rapat, malah mereka sembunyi-sembunyi untuk memutuskan sesuatu program, agar tidak muncul pertentangan, apalagi program atau usulan yang kurang bisa diterima akal pikiran dari masyarakat setempat.

Begitulah, bila kita kurang bersedia menerima pandangan orang lain, apalagi yang benar, atau suka membantah padahal pandangan orang lain itu belum tentu salah. Orang yang bijak hendaklah mendengar orang lain, dan mau menerima pendapat orang lain. Lapangkan dada dan ikhlaskan segala bentuk kebaikan.Semoga kita bisa.(*)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close