JAKARTA, AsSAJIDIN.Com  — BNN menyatakan obat Paracetamol Cafein Carisoprodo (PCC) yang membuat 50 orang di Kendari, Sulawesi Tenggara, kejang-kejang merupakan obat keras. Selain kejang-kejang, obat itu bisa membuat badan terasa sakit.

“Sekarang ini efeknya kejang-kejang, mual, dan seluruh badan terasa sakit,” kata Deputi Bidang Pemberantasan BNN Irjen Arman Depari di gedung BNN, Jalan MT Haryono, Cawang, Jakarta Timur, Kamis (14/9/2017).

Arman menjelaskan fungsi sebenarnya obat PCC adalah menghilangkan rasa sakit. PCC juga untuk obat sakit jantung.

“Nah kalau dilihat kegunaannya, ini tentu bisa kita simpulkan kalau ini obat keras, obat yang tidak boleh bebas beredar,” ujar Arman.

Sebelumnya, 50 pelajar dan pegawai menjadi korban akibat mengonsumsi obat berbahaya, yakni PCC. Seorang ibu rumah tangga (IRT) dengan inisial ST (39), yang diduga menjadi pengedar, ditangkap polisi sekitar pukul 02.00 Wita, Kamis (14/9/2017) dini hari, di kediamannya, Kecamatan Kendari Barat, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra).

Kapolsek Mandonga AKP Haris Akhmat Basuki mengatakan polisi melakukan penangkapan berdasarkan pengembangan dan informasi. Polisi langsung melakukan pendataan begitu korban berjatuhan.

 

Korban Penyalagunaan obat Paracetamol Cafein Carisoprodo (PCC) di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), terus bertambah. Bila sebelumnya 32 orang kemudian bertambah menjadi 43 dan meningkat hingga 64 bahkan kini telah mencapai angka 66 orang.

“Data jumlah korban sekarang sudah 66 orang,” ujar Kabagpenum Divisi Humas Polri Kombes Martinus Sitompul melalui pesan singkat kepada Republika di Jakarta, Jumat (15/9) dikutip dari republika.co.id.

Menurut Martinus, beberapa korban sudah ada yang pulang ke rumah masing-masing. Baik yang kondisinya sudah membaik maupun karena alasan lainnya.

Saat ini, dia menerangkan, korban yang masih menjalani perawatan di sejumlah rumah akit berjumlah 15 orang. Sebanyak 12 di antaranya berada di rumah sakit jiwa Kendari, dua orang di rumah sakit Bhayangkari dan satu orang di rumah sakit Bahteramas.

“Tinggal 15 yang masih dirawat di rumah sakit. 12 orang di RS Jiiwa, 2 orang di RS Bhayangkara dan satu orang di RS Bahteramas,” ungkap Martinus.

Sebanyak 66 korban tersebut masih berusia anak-anak sekolah dan mahasiswa. Bahkan satu korban yang tewas, diketahui masih duduk di bangkj kelas VI Sekolah Dasar (SD).

Kepolisian bersama Badan Narkotika Basional (BNN) dan BPOM terus menggali kandungan yang terdapat di dalam PCC.(*)

Lazada Indonesia